press enter to search

Sabtu, 15/05/2021 06:30 WIB

Kisah Miris Covid-19 di India, Rumah Sakit Mengemis Oksigen ke Pengadilan

Dahlia | Rabu, 05/05/2021 04:24 WIB
Kisah Miris Covid-19 di India, Rumah Sakit Mengemis Oksigen ke Pengadilan Foto: Seorang pasien COVID-19 duduk di dalam mobil dan bernapas dengan bantuan oksigen yang disediakan oleh Gurdwara, rumah ibadah Sikh, di New Delhi, India. (AP / Altaf Qadri)

Jakarta (aksi.id) - Corona membuat warga India makin sengsara. Bahkan, warga kini harus berebut oksigen di pengadilan.

Di ibu kota new Delhi, pengadilan menjadi harapan terakhir bagi banyak rumah sakit berjuang mendapatkan oksigen untuk pasien Covid-19. Persediaan yang ada sangat tipis sementara pejabat sibuk bertengkar siapa yang bertanggung jawab.

Hakim di Pengadilan Tinggi Delhi mengadakan konferensi video setiap hari untuk mendengarkan petisi dari rumah sakit yang menyerukan hak konstitusional India untuk perlindungan kehidupan. Pejabat federal dan lokal hadir dalam persidangan itu.

Salah satu rumah sakit yang menuntut adalah RS Sitaram Bhartia. Fasilitas kesehatan itu hanya memiliki 30 menit oksigen untuk 42 pasien.

"Ini upaya terakhir," kata pengacara Shyel Trehan, dikutip Reuters, Selasa (4/5/2021).

"Tabung oksigen tiba segera setelah sidang, dan sebuah tangki tiba beberapa jam kemudian."

Kekurangan oksigen medis telah melanda kota berpenduduk 20 juta orang itu dua minggu terakhir. Sejak setengah bulan ini kasus corona menggila di negara itu, dengan rata-rata 300.000 kasus harian baru per hari.

Banyak pasien meninggal di ranjang rumah sakit karena tak bisa bernafas. Mereka masih beruntung, sebagian meninggal di ambulans dan tempat parkir sambil terengah-engah.

Delhi sendiri mencatat 20.000 kasus Covid setiap hari. Pemerintah kota menyebut membutuhkan 976 ton oksigen medis setiap hari namun federal hanya mengalokasikan kurang dari 490 ton.

Perwakilan pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi, yang mengelola pasokan secara nasional, mengatakan kepada pengadilan bahwa mereka sudah melakukan semua yang mungkin. Pemerintah Delhi, yang dijalankan oposisi, disalahkan dan sisebut memolitisasi keadaan.

Hakim mengecam para pejabat. Bahkan berteriak "sudah cukup... cukup" untuk menenangkan politisi yang berseteru di persidangan.

"(Pemerintah) harus mengemis, meminjam, mencuri atau mengimpor pasokan oksigen untuk memenuhi kebutuhan kota," tegas seorang Hakim bernama Sanghi yang kesal.

"Negara tidak bisa mengatakan kami hanya dapat menyediakan sebanyak ini dan tidak lebih ... jadi jika orang mati, biarkan mereka mati," ujarnya lagi menyindir pejabat.

India pada Selasa melaporkan tambahan 357.229 infeksi harian virus Covid-19. Dengan angka ini, jumlah kasus Covid-19 di negara itu mencapai 20,28 juta.

Sejauh ini, setidaknya 222.408 orang telah meninggal karena infeksi tersebut. Tetapi angka itu kemungkinan lebih rendah dari jumlah kematian yang sebenarnya.

Media setempat menunjukkan krematorium dan kuburan dipenuhi dengan jenazah Covid-19. Sementara itu jumlah infeksi pasti juga saat ini menjadi perdebatan, mengingat virus itu telah mencapai pelosok-pelosok negeri yang memiliki kesulitan akses ke alat testing dan trancing virus itu.

"Pandemi sekarang telah memasuki kota-kota kecil dan desa-desa, dan kami sekarang cukup khawatir tentang seberapa banyak kerusakan yang akan ditimbulkannya di daerah-daerah di mana sistem kesehatan tidak berkembang cukup baik untuk memberikan dukungan, bahkan beberapa dari yang besar Metro sedang berjuang dengan beban kasus di rumah sakit," kata K. Srinath Reddy, presiden di Yayasan Kesehatan Masyarakat India sebagaimana dilansir CNBC International.

Dalam menanggulangi penyebaran lebih lanjut, setidaknya 11 negara bagian dan wilayah persatuan telah memberlakukan beberapa bentuk pembatasan untuk mencoba dan membendung infeksi. Sayangnya pemerintah Perdana Menteri (PM) Narendra Modi enggan memberlakukan kuncian nasional, khawatir tentang dampak ekonomi.

(lia/sumber:cnbcindonesia.com)