press enter to search

Sabtu, 24/02/2024 12:49 WIB

Ada Cinta dan Kenangan di Musholla itu

Redaksi | Sabtu, 08/05/2021 22:47 WIB
Ada Cinta dan Kenangan di Musholla itu Abah Agus Awe

Namanya Al-Ikhlas. Berdiri di pinggir Jalan Harapan Mulia XI, Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat. Terasnya hanya selebar sekitar satu meter. Untung saja ada tempat penyimpanan sandal. Bila tidak, maka sandal harus meletakkan di pinggir jalan, yang cukup ramai kendaraan melintas.

Ada beduk, yang selalu ditabuh sebelum azan. Beduk ini menggunakan drum bekas minyak, dengan penutup kulit sapi.

Di musholla itu, bapak menjadi salah satu dari tiga imam shalat. Sering mengenakan batik atau baju safari saat memimpin shalat. Suaranya begitu merdu saat mampir di telinga.

Rasanya bapak nggak pernah menyuruh tiga anaknya, yang lelaki semua, untuk shalat berjamaah. Tetapi beliau memberikan contoh saja. Namun saya menjadi salah satu makmumnya. 

Saya kagum kepada bapak. Sebagai wiraswasta dengan membuka bisnis agen minyak tanah dan mengoperasikan puluhan Bajaj, beliau masih menyempatkan diri menjadi imam shalat di musholla.

Setiap jelang Ramadhan, saya bersama sejumlah kawan berinisiatif mengecat musholla tersebut. Dengan uang dari pengurus musholla, kami mengecat hingga kubah. Kami juga menuliskan kembali kaligrafi di dinding dalam musholla.

Beberapa jam sebelum memasuki 1 Ramadhan, kami mengeluarkan beduk dan meletakkan di pinggir jalan. Kami menabuhnya. Sebagai penanda bahwa nanti malam dimulai shalat tarawih.

Pekan pertama, jamaah shalat tarawih meluber hingga ke jalanan. Pekan selanjutnya jumlah jamaah menyusut.

Beberapa hari menjelang Lebaran, kami menjadi amil zakat. Uang hingga beras diterima dari jamaah. Pendapatan zakat dihitung lalu dibagikan kepada warga, yang berhak menerimanya.

Kam menggunakan gerobak untuk mengantar beras dan uang ke rumah-rumah warga. Setelah kelar, kami ikut takbiran di dalam musholla.

Karena sebagai bagian dari pengurus zakat maka kami juga mendapat bagian uang. Namun kami menolak menerimanya. Alasannya, kami merasa sudah sangat senang dapat ikut mengurus musholla. Kebahagiaan itu sudah cukup. Dan tidak perlu lagi ditambah dengan menerima uang.

Saya beberapa kali melintas depan musholla itu. Terkenang masa remaja di sana. Teringat bapak, yang memimpin shalat. 

 

 

Keyword

Artikel Terkait :

-