press enter to search

Selasa, 22/06/2021 17:26 WIB

AS Bakal Mediasi Jika Israel-Palestina Gencatan Senjata Ruang sidang Dewan Keamanan PBB

Redaksi | Senin, 17/05/2021 14:53 WIB
AS Bakal Mediasi Jika Israel-Palestina Gencatan Senjata Ruang sidang Dewan Keamanan PBB Sidang Dewan Keamanan PBB.

JAKARTA (Akisi.id) - Amerika Serikat menawarkan diri menjadi penengah jika Israel dan kelompok Hamas di Jalur Gaza, Palestina, bersedia gencatan senjata untuk mengakhiri kekerasan yang semakin memburuk.

Hal itu disampaikan AS kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Minggu (16/5) kemarin.

"Dari dialog dengan para pejabat Israel, Otoritas Palestina, dan semua mitra regional, Amerika Serikat menyatakan siap untuk memberikan dukungan dan jasa baik kami jika pihak-pihak tersebut mengupayakan gencatan senjata," ujar Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas, kepada 15 Anggota DK PBB, mengutip Reuters.

AS, kata Linda, terus bekerja mencari jalan keluar bagi konflik antara Israel dan Palestina melalui saluran diplomatik.

"Karena kami yakin orang Israel dan Palestina sama-sama memiliki hak untuk hidup dalam keselamatan dan keamanan," ujar Linda.

Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan, menyatakan serangan militer di Jalur Gaza untuk membalas Hamas sudah sesuai dengan hukum internasional. Ia mengklaim negaranya mengambil langkah-langkah semaksimal mungkin untuk mencegah jatuh korban sipil.

"Israel menggunakan rudal untuk melindungi anak-anak. Hamas menggunakan anak-anak untuk melindungi rudal," kata Erdan.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki, mengatakan semakin Israel mencari pembenaran atas tindakannya, semakin berani mereka membunuh rakyat Palestina.

"Setiap kali Israel mendengar seorang pemimpin asing berbicara tentang haknya untuk membela diri, semakin berani untuk terus membunuh seluruh keluarga dalam tidur mereka," kata Riyad.

Dalam pertemuan sebelumnya, AS keberatan terhadap pernyataan DK PBB mengenai aksi kekerasan yang dilakukan Israel dan Palestina. Mereka khawatir hal tersebut akan membahayakan hubungan diplomasi.

Sikap AS mendapat kritik dari China, sekaligus pemimpin dalam pertemuan yang digelar PBB itu.

"Kami meminta AS untuk memikul tanggung jawabnya, mengambil sikap yang adil, dan bersama dengan sebagian besar komunitas internasional mendukung Dewan Keamanan dalam meredakan situasi," kata Menteri Luar Negeri China Wang Yi, yang memimpin pertemuan.

China bakal kembali mendorong DK PBB untuk menyetujui pernyataan dari hasil pertemuan itu.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, meminta Israel dan Hamas untuk segera melakukan gencatan senjata. Ia juga meminta upaya mediasi yang intensif.

Bujukan dari Mesir, Qatar dan PBB supaya Israel dan Hamas melakukan gencatan senjata sejauh ini belum mampu meredakan peperangan kedua belah pihak.

Sementara itu, Liga Arab meminta pemerintahan Presiden AS, Joe Biden, untuk terlibat lebih aktif, dalam proses perdamaian Timur Tengah.

"Keterikatan akan menghilangkan delusi yang dibuat oleh pemerintahan AS masa lalu, bahwa Israel akan mendapatkan segalanya sementara Palestina tidak akan mendapatkan apa-apa," kata utusan Liga Arab untuk PBB, Maged Abdel Fattah Abdelaziz.

saat ini memasuki pekan kedua. Belum ada tanda-tanda yang menunjukkan konflik akan mereda. Bahkan jumlah korban tewas terus bertambah.

Menurut laporan, jumlah korban tewas dari Palestina sebanyak 194 orang. Sebanyak 58 di antaranya anak-anak dan 34 lainnya perempuan. Sementara dari pihak Israel dilaporkan 10 orang tewas, dua di antaranya anak-anak. (ds/sumber CNNIndonesia.com)

Artikel Terkait :

-