press enter to search

Minggu, 19/05/2024 15:10 WIB

Diancam Blokir, CEO TikTok Mengaku Bukan Orang China

Redaksi | Jum'at, 24/03/2023 11:20 WIB
Diancam Blokir, CEO TikTok Mengaku Bukan Orang China Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency

Jakarta (Aksi.id) - CEO TikTok Shou Zi Chew akhirnya menghadapi langsung para wakil rakyat Amerika Serikat di Washington DC. Uniknya, dalam pembukaan kesaksiannya, Chew seperti berusaha keras menegaskan bahwa dirinya bukan warga negara China.

Chew membuka kesaksiannya di depan kongres AS dengan cerita tentang latar belakang kehidupan pribadinya. Ia memaparkan bahwa dirinya pernah tinggal di Singapura, United Kingdom, dan Amerika Serikat. Seperti orang tuanya, lanjut Chew, ia lahir di Singapura. Adapun, istrinya lahir di Virgina, Amerika Serikat.

Latar bekalang detail tentang tempat lahirnya dan negara tempat ia pernah tinggal sepertinya untuk menegaskan kepada para anggota kongres bahwa dirinya bukan warga negara China.

Namun, tetap saja, para anggota kongres mendesak Chew untuk mengungkap keterkaitan TikTok dengan China lewat perusahaan induknya, ByteDance. Sebelum diakuisisi oleh ByteDance, TikTok adalah perusahaan asli AS yang bernama Musica.ly.

CNBC International melaporkan bahwa para anggota kongres bertanya kepada Chew tentang kemampuan pegawai ByteDance untuk mengakses data TikTok di Amerika Serikat, kegagalan perusahaan menghapus unggahan yang berbahaya, dan keterkaitan perusahaan dengan Partai Komunis China.

Chew membantah kabar yang menyatakan TikTok mengizinkan Partai Komunis China mengakses data penggunanya. Selain itu, ia menegaskan bahwa CEO ByteDance Liang Rubo bukan anggota Partai Komunis China.

Soal keterkaitan pegawai TikTok yang lain dengan Partai Komunis China, Chew menyatakan bahwa perusahaan tidak memiliki kebijakan untuk menanyakan afiliasi politik tiap karyawannya.

Para anggota kongres AS juga mengutarakan kecemasan mereka atas hukum China yang menyatakan bahwa pejabat pemerintah bisa mengakses data perusahaan demi keamanan nasional.

"Kami tidak memercayai TikTok akan sepenuhnya mengikuti nilai kebangsaan Amerika, yaitu kebebasan, hak asasi, dan inovasi," kata salah Cathy McMorris, ketua komisi Energi dan Perdagangan, DPR AS.

Anggota DPR AS lainnya, Darren Soto bahkan menyatakan secara terbuka bahwa TikTok harus menjadi perusahaan Amerika. "TikTok harus menjadi perusahaan Amerika dengan nilai Amerika dan mengakhiri keterkaitannya dengan Partai Komunis China.

Sikap yang lebih lunak ditunjukkan oleh anggota DPR AS bernama Jamaal Bowman. Ia membandingkan kehebohan soal TikTok dengan kepanikan soal komunis di AS selama masa perang dingin.

Pemerintah dan kongres AS dikabarkan tengah mendesak divestasi saham di TikTok untuk mengalihkan kepemilikan perusahaan media sosial tersebut ke investor di luar China. Jika divestasi tak terwujud, aplikasi TikTok terancam diblokir di Amerika Serikat.     (ny/Sumber:CNBCindonesia)