press enter to search

Sabtu, 25/05/2024 17:57 WIB

Saham dan Bandarmology: Sekadar Mitos atau Fakta?

| Minggu, 17/12/2023 19:25 WIB
Saham dan Bandarmology: Sekadar Mitos atau Fakta? Foto:Ilustrasi

Oleh Nayottama Aryaputra

Bandarmology merupakan sebuah istilah yang familiar sekali dalam dunia pasar saham, terutama bagi para investor dan trader saham. Dalam pasar saham terdapat berbagai jenis teknik analisis yang digunakan oleh pelaku pasar untuk menganalisis saham. Beberapa diantaranya yaitu, analisis teknikal yang menggunakan grafik untuk menganalisis saham, analis fundamental yang menggunakan laporan keuangan perusahaan untuk menganalisis saham, dan bandarmology.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih lanjut seputaran bandarmology, serta memahami dampak nya bagi para investor.

Apa itu Bandarmology

Sebenarnya apa itu “bandarmology”? Bandarmology merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang kebiasaan bandar saham dalam aktivitas jual-beli saham guna mengetahui pergerakan harga saham dalam hitungan waktu jam hingga hari. Berbeda dari teknik analisis lain nya, bandarmology lebih berfokus pada memahami sistem dan psikologis bandar dalam menggerakkan harga saham. Sedangkan menurut Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M Investa), Hari Prabowo, Bandarmology adalah trik trading dengan cara melihat langsung posisi bid/offer, nilai, volume, dan frekuensi, serta siapa yang melakukan transaksi.

Mengenal istilah “bandar”

Lalu, siapa itu “bandar” dalam saham? Dalam sebuah perdagangan terdapat pihak yang dikenal sebagai bandar dan menjadi market mover. Market mover ini merupakan sebutan bagi sekelompok investor atau institusi yang melakukan transaksi saham melalui berbagai macam broker dalam jumlah yang sangat besar, sehingga aktivitas mereka tersebut dapat mempengaruhi pergerakan harga suatu saham dengan signifikan.

Namun investor dan trader saham seringkali skeptis dengan metode bandarmology ini, mereka berpendirian bahwa pergerakan harga saham hanya dapat diperhatikan dan dipengaruhi oleh analisis fundamental dan analis teknikal saja. Di dunia pasar saham, jenis analisis bandarmology ini hampir tidak pernah dituliskan secara gambling oleh pakar ataupun dibahas dalam buku. Pada kenyataan nya pada kondisi pasar saat ini, begitu banyak saham yang pergerakan harga nya bertentangan dengan analisis fundamental dan teknikal.

Tahapan pergerakan bandar

Dikutip dari situs Ajaib.co.id, terdapat beberapa pergerakan bandar saham yaitu:

1. Akumulasi

Tahapan ini merupakan momen ketika bandar saham mengumpulkan saham melalui cara pembelian saham dari investor kecil untuk memperbanyak jumlah kepemilikan saham, hal ini bertujuan untuk bisa menguasai suplai saham dan mengontrol pergerakan harga nya.

2. Distribusi

Tahapan ini merupakan momen ketika bandar saham melakukan aksi penjualan kepada investor kecil ketika sudah mendapatkan keuntungan dan harga saham telah mencapai harga yang ditargetkan.

3. Menimbun

Bandar saham sering melakukan tahap ini pada saham lapis 2 dan 3, di mana saham yang  sedang tidak di gerakkan maka harga nya cenderung diam, volume transaksi nya kecil, dan antrian bid dan offer menjadi tipis.

Prinsip analisis Bandarmologi

Dalam menganalisis saham dengan strategi Bandarmology, diperlukan nya beberapa prinsip dasar dalam memahami kegunaan serta alasan analisis Bandarmology menjadi penting dalam memahami dinamika pasar saham.

1. Inefiseinsi Pasar Modal

Salah satu dasar prinsip Bandarmologi adalah keyakinan bahwa pasar modal tidak efisien. Kesenjangan penerimaan informasi antara investor besar yang memiliki kepemilikan saham signifikan dengan investor ritel menciptakan situasi di mana pemain besar lebih diuntungkan dalam menerima informasi terkini dari perusahaan. Hal ini menjadi landasan penting dalam menganalisis pergerakan harga saham.

2. Bandar dan Ritel

Prinsip berikutnya adalah pemahaman bahwa pasar modal terbagi menjadi dua kubu utama, yaitu kubu bandar dan kubu ritel. Kubu bandar, yang terdiri dari investor besar, bertujuan mencari keuntungan dengan menggerakkan harga saham. Di sisi lain, kubu ritel, yang terdiri dari investor perorangan, mencari keuntungan dengan merespons pergerakan harga yang sudah ada.

3. Satu Bandar Melawan Ribuan Ritel

Istilah "satu bandar" tidak hanya merujuk pada satu broker atau satu individu. Dalam konteks Bandarmology, satu bandar mencakup sebuah kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini bisa terdiri dari beberapa sekuritas, beberapa investor, atau bahkan beberapa lembaga keuangan. Sebaliknya, ribuan ritel bergerak secara individual, dan karena tujuan yang beragam, sulit bagi mereka untuk mencapai tujuan bersama. Keterpecahan tujuan inilah yang membuat sulit bagi ritel untuk secara bersama-sama menggerakkan harga saham.

Contoh Pergerakan Saham Tidak Wajar

Dikutip dari Bisnis.com, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu yang melaksanakan IPO pada 9 Oktober 2023 di harga Rp 780 per lembar saham, namun saham BREN kian melesat hingga ke level tertinggi Rp 8.175 pada 9 Desember 2023. Sehingga saham BREN tercatat telah mengalami peningkatan 948% sejak harga IPO dan dengan market cap sebesar Rp 1.083 triliun, sehingga berhasil menggeser BBCA dengan market cap sebesar Rp 1081 triliun. Sebagai informasi, BCA tekah melaksanakan IPO pada 31 Mei 2000 dengan harga awal Rp 1.400 per lembar saham, namun harganya yang terus naik sehingga terjadilah pemecahan saham atau stock split beberapa kali.

Melalui hal tersebut, dapat terlihat bahwa pergerakan bandar seringkali bertentangan dengan analis fundamental dan analisis teknikal suatu saham. Walaupun secara valuasi BREN telah dianggap terlalu mahal, namun harga nya terus meroket hingga berhasil menyentuh level Rp 8.175 dan menggeser market cap BBCA hanya dalam waktu dua bulan.

Melalui contoh kasus tersebut, keberadaan analisis bandarmology tidak bisa lagi dianggap sebelah mata. Oleh karena itu, keberadaan Bandarmology menjadi semakin relevan di tengah kondisi pasar yang dinamis. Para investor disarankan untuk mempertimbangkan pendekatan ini sebagai tambahan penting dalam strategi analisis mereka untuk membuat keputusan investasi yang lebih informasional dan cerdas.


Penulis adalah Nayottama Aryaputra
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya

Penulisan artikel ini dalam rangka penyelesaian tugas akhir semester 1 dari mata kuliah Dasar-Dasar Kompetensi Akademik

Artikel Terkait :

-