press enter to search

Senin, 17/06/2019 22:16 WIB

Dedi Darmawan: Jangan Terburu-buru Izinkan Maskapai Asing Layani Penerbangan Domestik

| Kamis, 06/06/2019 15:40 WIB
Dedi Darmawan: Jangan Terburu-buru Izinkan Maskapai Asing Layani Penerbangan Domestik Dedi Darmawan

JAKARTA (aksi.id) - Pengamat transportasi Dedi Darmawan mengingatkan pemerintah untuk mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh sebelum mengizinkan maskapai penerbangan asing beroperasi di rute dalam negeri.

Kepada Aksi.id dan BeritaTrans.com, Kamis (6/6/2019), dia menuturkan dapat memahami pertimbangan pemerintah dalam wacana mengundang maskapai asing melayani pencerahan domestik.

Dia mengemukakan dapat difahami  bahwa penerbangan asing di rute domestik akan memberi peluang bagi publik untuk mendapatkan pilihan lebih banyak. Selain itu, dalam jangka pendek publik akan mendapatkan pelayanan penerbangan bertarif murah.

Namun, dia menuturkan mengundang penerbangan asing wajib melalui liberalisasi regulasi. "Termasuk di dalamnya menghapus azas cabotage dan azas resiprokal," ujarnya.

Belum lagi, mantan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Perhubungan itu mengingatkan peluang munculnya masalah di kemudian hari, yang kemungkinan amat merugikan kepentingan bangsa dan negara.

Masalah itu antara lain terjadi persaingan tidak sehat antara maskapai nasional dengan asing. "Bukan tidak mungkin dalam kerangka menghadirkan tarif murah maka terjadi kelalaian  perawatan pesawat sehingga membahayakan keselamatan penerbangan," ujarnya.

"Atau bahkan terjadi dumping pada perusahaan penerbangan asing oleh pemerintahnya sehingga bisa menjual tiket dengan harga rendah persis pada tingkatan tarif batas bawah yang tidak mampu dilakukan oleh perusahaan penerbangan nasional," cetus mantan Kepala BPSDM Perhubungan tersebut.

Dalam persaingan bebas seperti itu maka dapat dipastikan maskapai nasional terkalahkan. "Ketika maskapai asing sudah memonopoli maka tinggal seenaknya saja mereka mengatur tarif. Dalam kondisi itu maka publik dan pemerintah menjadi tidak berdaya,"  ungkapnya.

Pada sisi lain, Dedi Darmawan mengingatkan dengan mengundang maskapai asing di rute domestik maka berkurang kesempatan bisnis dan SDM nasional untuk berkembang lebih baik.

Biarkan Saja

Lalu apa yang sebenarnya dapat dilakukan Menteri Perhubungan? "Harusnya menhub berani memberi masukan. Soal tarif pesawat udara yang dinilai tinggi, sebentar lagi juga akan menjadi `biasa`. Jangan terlalu dimanjakan masyarakat Indonesia. Sudah banyak pilihan moda Transportasi lainnya yang sudah lumayan bagus," ucapnya.

"Dulu waktu tiket pesawat udara, `rendah` , kan terjadi shifting penumpang dari moda darat dan laut ke moda udara. Sekarang saat tiket pesawat udara dinilai `tinggi` oleh sebagian masyarakat, terjadi shifting penumpang dari moda udara ke darat dan laut. Memang begitu karakteristik pasar kita..jangan risau..memang begitu. Tidak mengapa.. Sampai nanti terjadi keseimbangan sendiri pada pengguna jasa Transportasi," tuturnya.

Dia mengutarakan biarkan penumpang angkutan udara nantinya menjadi penumpang masyarakat tertentu saja..masyarakat yang memang mampu membayar untuk suatu biaya operasional penerbangan yang wajar.

"Jangan memaksakan untuk menurunkan harga tiket pesawat udara hanya untuk memanjakan masyarakat yang sebetulnya (ma`af) belum mampu membayar untuk biaya operasional penerbangan minimum yang layak. Gunakan moda darat atau moda laut yang sudah semakin membaik," tegasnya.

Dedi mengemukakan biarkan perusahan penerbangan nasional bisa survive dan tetap tumbuh di tengah situasi yang serba mahal. "Jangan manjakan sebagian masyarakat pengguna jasa Transportasi. Percayalah..pada saatnya nanti, seluruh masyarakat akan mampu membayar biaya Transportasi sesuai keperluannya, bahkan dengan tiket pesawat udara seperti yang saat ini dinilai `tinggi`. Please jangan manjakan masyarakat Kita, supaya semua bisa survive," ujarnya.

Dia mengingatkan berbahaya sekali kebijakan yang memanjakan masyarakat, dengan menurunkan harga tiket padahal harga itu tidak bisa memenuhi kebutuhan biaya operasional perusahaan penerbangan minimum yang menjamin keselamatan. 

Agar Kompetisi

Sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa pemberian kesempatan terhadap maskapai asing  sesuai saran Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Beberapa hari lalu pak presiden beri saran bahwa berilah kemungkinan satu kompetisi yang lebih baik, kompetisi bisa terjadi apabila penerbangan asing ikut dalam ini," kata Budi di Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Jawa Timur, Senin (3/6/2019).

Meski saran Kepala Negara untuk melibatkan maskapai asing bersaing demi menekan mahalnya harga tiket pesawat, Budi Karya mengaku akan mengkajinya terlebih dahulu.

"Oleh karenanya kita akan pelajari dan asasnya untuk diperhatikan," ujar dia.

Budi mengungkapkan, tidak bisa menurunkan harga tiket pesawat begitu saja. Sebagai Menteri Perhubungan dirinya hanya bisa mengatur harga melalui tarif batas atas dan batas bawah.

"Ya harga tiket terjadi beberapa yang kurang bisa ditolerir, saya selaku menteri bukan yang memiliki kewenangan untuk mengatur tiket ya, kami hanya tentukan batas atas batas bawah," ungkap dia.

Duopoli

Tampaknya saran Presiden didasari oleh iklim penerbangan di Indonesia yang terlihat kurang kompetitif.

Bagaimana tidak, untuk rute-rute domestik, saat ini penerbangan hanya dikuasai oleh dua grup maskapai, yaitu Garuda Indonesia Group, dan Lion Group.

Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, dan Nam Air merupakan sederet maskapai yang operasionalnya terkait dengan Garuda Indonesia Group.

Sebagai latar belakang, sejak November 2018 silam, Garuda Indonesia Group mengambil alih operasional Sriwijaya Air dan Nam Air dalam Kerja Sama Operasi (KSO) melalui PT Citilink Indonesia. Artinya sejak saat itu Garuda Indonesia Group memiliki andil dalam penentuan kebijakan dan operasional empat maskapai, termasuk penentuan rute dan tarif.

Sementara itu, Lion Air, Batik Air, dan Wings Air berada di bawah naungan Lion Group yang didirikan oleh Rusdi Kirana yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia.



Berdasarkan data yang dihimpun dari flightradar24.com, rata-rata jumlah penerbangan domestik Garuda Indonesia Group dari 10 kota besar di Indonesia mencapai 738/hari. 

Penerbangan Garuda Indonesia Group masih didominasi oleh Garuda Indonesia dan Citilink, dengan jumlah penerbangan masing-masing 297/hari dan 219/hari. Sriwijaya Air dan NAM Air mengekor dengan jumlah penerbangan masing-masing sebesar 168/hari dan 54/hari.

Beda tipis dengan Garuda, Lion Group memiliki jumlah penerbangan 779/hari yang lebih dari separuhnya dilakukan oleh Lion Air (445/hari). Sedangkan jumlah penerbangan Batik Air dan Wings Air masing-masing sebanyak 229/hari dan 105/hari.

Sebenarnya masih ada AirAsia Indonesia yang juga melayani penerbangan rute domestik. Akan tetapi jumlah penerbangan AirAsia Indonesia hanya sebanyak 48/hari, terpaut sangat jauh dengan dua raksasa yang dibahas sebelumnya.



Berdasarkan data-data tersebut, boleh dikatakan saat ini angkutan udara rute domestik di langit nusantara sedang dikuasai oleh dua pemain utama saja. Berbeda dengan dahulu, yang mana ada beberapa maskapai lain seperti Adam Air, Mandala, Air, dan Batavia Air. Sayangnya, maskapai-maskapai tersebut hanya tinggal kenangan saja.

Kondisi ini akan sangat berpotensi membuat terjadinya persaingan tidak sempurna di pasar angkutan udara. Para produsen, dalam hal ini adalah maskapai memiliki kekuatan yang besar untuk mengendalikan harga.

Alhasil, mekanisme pembentukan harga di pasar yang lumrahnya mengikuti hukum penawaran-permintaan jadi tidak lagi berlaku. Terlebih di negara kepulauan seperti Indonesia, dimana kebutuhan angkutan udara memiliki peranan penting.

Maka dari itu, saran dari presiden Jokowi untuk mengundang maskapai asing untuk melayani rute domestik di Indonesia bisa menjadi salah satu solusi. Dengan adanya pemain tambahan, maka maskapai-maskapai akan terdorong untuk memberi harga yang semakin murah karena faktor persaingan. Harapannya, harga yang beredar di pasar akan semakin mendekati harga keseimbangan.

Selain itu, adanya persaingan juga akan mendorong maskapai untuk melakukan efisiensi dan memberikan nilai tambah bagi penumpang. Kalau sudah begitu, yang diuntungkan adalah konsumen. Harga bisa turun, layanan juga berpeluang lebih baik.

Sebagai catatan, data penerbangan yang menjadi tinjauan didapatkan dari flightradar24.com pada hari Senin (3/6/2019) yang merupakan keberangkatan dari kota-kota berikut:

  • Jakarta
  • Surabaya
  • Makassar
  • Denpasar
  • Medan
  • Palembang
  • Balikpapan
  • Jayapura
  • Padang
  • Bandung

(dien).