press enter to search

Minggu, 25/08/2019 20:57 WIB

Telkom Usul 5G di Indonesia Gunakan Frekuensi 2,6GHz

Redaksi | Rabu, 17/07/2019 14:38 WIB
Telkom Usul 5G di Indonesia Gunakan Frekuensi 2,6GHz 5G Network Connectivity, Foto: rfindustries.com

JAKARTA (Aksi.id) - Manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk., menyarankan kepada pemerintah untuk menggunakan spektrum lain untuk mengimplementasi generasi 5G.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah menuturkan bahwa hingga saat ini implementasi 5G di Indonesia masih terhambat oleh alokasi spektrum dan regulasi.

Dia mengatakan bahwa frekuensi 3,5GHz yang sempat diwacanakan Kementerian Komunikasi dan Informatika tidak dapat digunakan karena masih dipakai oleh satelit. Begitupun dengan skema berbagi frekuensi, juga tidak dapat dilakukan karena rawan inteferensi.

Ririek berpendapat selain 3,5 GHz frekuensi yang memungkinkan untuk digunakan 5G adalah frekuensi s-band di 2,6 GHz, dengan melihat jumlah pengguna yang ada saat ini.    

“Selain 3.5 mungkin yang paling dekat untuk bisa dipakai adalah 2.6GHz dengan pertimbangan potensi jumlah user secara global di dunia dalam waktu dekat,” kata Ririek dilansir dari Bisnis.com, Selasa (16/7/2019).

Diketahui berdasarkan laporan,Ericsson Mobility Report Juni 2019, disebutkan bahwa penyerapan 5G secara global terjadi lebih cepat dari waktu yang diperkirakan sebelumnya pada laporan November 2018, seiring dengan penyebaran 5G oleh operator dan pengguna gawai yang beralih ke 5G. 

Laporan tersebut memperkirakan bahwa pelanggan 5G akan mencapai 1,9 miliar pada 2024, angka ini naik 27% dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya pada November 2018 yang memprediksi hanya 1,5 miliar pengguna 5G pada 2024.Tidak hanya itu pada 2019 ini, terdapat sejumlah vendor yang telah meluncurkan ponsel pintar yang mendukung jaringan 5G.

Untuk di high band pada rentang frekuensi 28 GHz – 39 GHz terdapat dua ponsel pintar yang telah mendukung 5G. Kemudian pada rentang frekuensi mid band frekuensi 3,5 GHz dan 2,6 GHz terdapat dua ponsel juga yang telah mendukung 5G.

Lebih lanjut, berdasarkan data yang diterima dari sumber Bisnis, beberapa operator di China dan Amerika Serikat telah memanfaatkan 2,6 GHz untuk 5G. Sementara itu, Thailand, Vietnam, Myanmar, Norwegia, Arab Saudi, Mesir dan Jepang baru berencana menggunakan 2,6 GHz.  

Adapun mengenai implementasi 5G di Indonesia, Ririek menilai kemungkinan baru dapat diterapkan di indutri dengan skema Business to Business (B2B).

Ririek melihat sulit untuk geneasi ke lima dipasarkan secara komersial kepada konsumen mengingat besarnya nilai investasi yang harus digelontorkan untuk mengembangankan jaringan dan harga layanan yang mahal.

Dia menyampaikan bahwa Telkom sudah siap untuk mengimplematasikan 5G dari segi B2B, jika regulasi dan spektrum telah tersedia. Telkom telah  menjalin pembicaraan dengan salah perusahaan yang begerak di industri kertas di salah satu pulau mengenai pemanfaatan 5G, dalam bentuk  joint innovation center.

“Kami siap, meskipun pengembangan jaringan dan layanan 5G ini harus dilakukan secara terukur,” kata Ririek.

Di samping itu, sambungnya, Telkom juga telah berkerja sama dengan beberapa vendor dalam pengembangan pemanfaatan 5G sekaligus uji coba untuk B2B.

Adapun untuk frekuensi yang digunakan untuk B2B dan B2C menurutnya tidak ada perbedaan.

“Kerja sama yang ada dengan beberapa vendor lebih untuk mengembangkan use case [di industri] termasuk trial,” kata Ririek.

Mengenai pemanfaatan frekuensi 2,6 GHz untuk 5G, Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menilai bahwa terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi untuk memanfaatkan frekuensi tersebut untuk 5G.

Pertama, Frekuensi 2,6 GHz masih digunakan oleh satelit Indovision SES7 untuk penyiaran. Kedua, belum ada konvergensi antara bisnis penyiaran dengan bisnis telekomunikasi.  

“Jika ada konvergensi bisnis keduanya, pengaturannya akan lebih mudah,  karena menjadi penyedia kontent, penyedia  network dan service provider saja. Saat ini konten provider menyatu sebagai service dan network operator.  Yang membedakan hanya pelayanannya saja sebagai telekomunikasi atau penyiaran,” kata Ian.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga membuka peluang pemanfaatan frekuensi 3,5 Ghz untuk 5G lewat skenario berbagi atau share frekuensi dengan satelit. Diketahui, pita frekuensi 3,5 Ghz saat ini masih digunakan oleh satelit.  

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan pemerintah bisa saja membuka jaringan 5G dalam waktu dekat lewat sharingfrekuensi 5G dengan satelit di pita frekuensi 3,5 GHz.

Hanya saja, sambungnya, jaringan 5G yang digelar nantinya  hanya mencangkup kawasan-kawasan tertentu yang tidak tercangkup oleh satelit. Adapun jika masyarakat ingin mendapat manfaat sepenuhnya dari frekuensi 3,5Ghz, mereka harus menunggu hingga kontrak frekuensi satelit habis.  

“Kita bisa menggunakan 3,5 Ghz tetapi di daerah yang tidak tercangkup oleh satelit Extended C, nah kebanyakan [Extended C] tidak digunakan di Pulau Jawa,” kata Rudiantara.  

Salah satu skenario yang dapat dilakukan dalam berbagi frekuensi adalah dengan membagi wilayah operasional frekuensi. 5G yang membutukan kapasitas besar dari serat optik dapat digelar di perkotaan, sedangkan satelit dengan cangkupan yang luas tanpa harus menggelar kabel, seharusnya dapat memberi pelayanan di daerah rural atau pedesaan. (dan/bisnis.com)