press enter to search

Jum'at, 23/08/2019 04:19 WIB

Ilmuwan Peringatkan: Berhentilah Membuat Kerusakan di Muka Bumi

Redaksi | Senin, 12/08/2019 11:18 WIB
Ilmuwan Peringatkan: Berhentilah Membuat Kerusakan di Muka Bumi Hutan Indonesia dibabat untuk perkebunan kelapa sawit. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Para ilmuwan mengecam keras kerusakan terhadap permukaan Bumi. Kegiatan manusia menyebabkan perusakan tanah, perluasan padang pasir, pembabatan hutan, terusirnya kehidupan alam liar dan pengurasan lahan gambut, kata mereka.

Tanah telah diubah dari sebuah aset untuk mengatasi perubahan iklim menjadi sumber utama karbon.

Para ilmuwan mengatakan perusakan tanah harus dihentikan untuk menghindari bencana pemanasan iklim.

Tanah belum diolah yang tertutup tumbuhan melindungi kita dari pemanasan berlebihan karena tanaman menyerap gas pemanas CO2 dari udara dan mengolahnya di tanah.

Tetapi pertemuan para ilmuwan di Jenewa, Swiss, baru-baru ini akan mengatakan pertanian dan penanaman pohon yang kita lakukan sering kali meningkatkan emisi karbon dioksida.

Sekitar seperempat dan sepertiga emisi gas rumah kaca sekarang diperkirakan berasal dari pengolahan lahan.

Ilmuwan akan memperingatkan terjadinya perang memperebutkan lahan di antara berbagai kepentingan yang bersaing: bahan bakar bio, materi tanaman untuk membuat plastik dan serat, kayu, kehidupan liar, kertas dan bubuknya, dan makanan untuk penduduk yang jumlahnya terus bertambah.

Laporan mereka akan menyatakan kita perlu mengambil keputusan berat terkait dengan bagaimana kita menggunakan lahan.

Dan dokumen itu akan kembali memperingatkan bahwa kebutuhan kita akan daging merah menekan lahan untuk menghasilkan makanan ternak, di samping menyumbangkan setengah emisi metana dunia — gas rumah kaca lainnya.

Laporan IPCC

Dokumen ini dijadwakan rampung pada minggu ini oleh para imuwan dan pejabat pemerintah yang merupakan anggota Panel Antar pemerintah PBB terkait dengan Perubahan Iklim (IPCC).

Inti laporan ini adalah sebuah paradoks bahwa lahan dapat menjadi sumber emisi CO2 atau sebagai penghilang emisi CO2.

Pertanyaannya terkait kepada bagaimana kita menggunakannya.

Mengapa dipermasalahkan?

Ambil contoh lahan besar tanah gambut dataran rendah atau fenlands di Inggris bagian timur.

Dalam keadaan alamiahnya, tanah tersebut berair. Tetapi selama berabad-abad, 99% telah dikuras untuk pertanian. Tanaman pangan tidak dapat tumbuh di tanah gambut.

Sisanya, 1% Wicken Fen, adalah lahan yang dimiliki yayasan National Trust, dimana tanah hitam gembur masih setebal empat meter.

Tanah pertanian di sekitarnya, yang telah dikuras, lebih rendah ketebalannya. Gambut telah berkurang menjadi hanya setebal 50 cm.

Sekitar 1-2% tanah pertanian yang dikuras menghilang setiap tahun. Fens di Inggris timur merupakan tanah gambut dataran rendah yang luas.

Hal ini terjadi karena ketika gambut terpapar udara, tanah tersebut akan melakukan oksidasi dan menghasilkan CO2.

Inilah masalahnya: lahan tanah gambut adalah juga merupakan lahan pangan paling produktif di Inggris — karenanya dikenal sebagai Emas Hitam.

Para petani ingin menanam di sana, bukannya mengairinya untuk menyimpan karbon.

Seorang petani muda, Charles Shropshire, mengatakan kepada saya bahwa dirinya mengkhawatirkan hilangnya karbon di lahannya.

Dia mengetahui bahwa perubahan iklim yang sudah terjadi telah mengganggu pola tanam. (ds/sumber viva.co.id)