press enter to search

Selasa, 22/10/2019 01:32 WIB

Polisi Berhijab Briptu Ima, Anggota Pasukan PBB: Saya Menikmati Tugas!

Redaksi | Selasa, 13/08/2019 11:32 WIB
Polisi Berhijab Briptu Ima, Anggota Pasukan PBB: Saya Menikmati Tugas! Briptu Hikma Nur Syafa atau Ima sat bertugas di Afrika. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Nama Briptu Hikma Nur Syafa akrab dipanggil Ima menjadi buah bibir. Pemicunya adalah paras cantik polisi berhijab yang tengah bertugas menjadi pasukan perdamaian di Bangui, Republik Afrika Tengah ini.

Namun, terlepas dari soal urusan fisik, Briptu Ima ini juga merupakan polisi muda yang berprestasi. Dia menjadi satu dari sedikit polwan yang berhasil lolos seleksi menjadi pasukan dengan misi United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic (MINUSCA).

Sebanyak 140 personel, termasuk 14 polwan, telah dikirim ke Bangui untuk misi perdamaian dan kemanusiaan. Di sana mereka akan melakukan berbagai kegiatan menjaga perdamaian, termasuk aktivitas sosial.

Polisi yang ini tergabung dalam kontingen Satgas Garuda Bhayangkara Formed Police Unit (Garbha FPU) Polri MINUSCA yang akan melaksanakan tugas selama 1 tahun dan dapat diperpanjang sesuai permintaan PBB dan Keputusan Pemerintah RI.

Lalu, bagaimana kisah awal Briptu Ima bisa berperan serta dengan misi internasional di benua Afrika?

Sejak berhasil menjadi polwan, menjadi bagian dari pasukan perdamaian merupakan mimpi Briptu Ima.

“Ini misi pertama saya sebenarnya, Mas, pertama kali ini saya bertugas di misi internasional. Jadi ini cita-cita saya dari dulu sebagai polisi Indonesia ingin ikut menjadi bagian polisi UN atau menjadi pasukan perdamaian dunia dan bertugas di luar negeri,” kata Ima saat berbincang, Selasa (13/8).

Untuk meraih mimpi itu, perjuangan Ima tidaklah mudah. Syarat-syarat yang ditetapkan Polri juga tak main-main.

Briptu Ima memulai merajut mimpinya pada Januari 2018. Saat itu ia mendaftar untuk menjadi anggota Garbha FPU Polri MINUSCA.

“Akhirnya setelah melalui beberapa seleksi, baik tes kesehatan, tes kejiwaan, tes keterampilan menggunakan komputer, tes mengemudi, tes menembak, tes kemampuan jasmani, dan tes bahasa, akhirnya saya dinyatakan lulus pada bulan Februari 2018,” ungkap perempuan 25 tahun ini.

Karena ini merupakan misi pasukan perdamaian di Bangui, pelatihan untuk bertugas di sana cukup lama. Sebab, sebelumnya pasukan khusus ini ditempatkan di Sudan, Afrika Utara.

“Kemudian saya melaksanakan yang namanya masa pra OPS atau pre-deployment training sebelum diberangkatkan. Kami dipersiapkan selama 1,5 tahun. Cukup lama waktunya karena kami kontingen pertama yang dikirimkan, sehingga memakan waktu cukup lama untuk proses persiapannya,” cerita Ima yang sebelum dikirim ke Afrika bertugas di sebagai polisi lalu lintas di Bantul, DIY, ini.

Perjuangan Ima untuk terbang ke Bangui belum selesai. Dia harus mengikuti serangkaian tes dari United Nations langsung.

Dari mulai tes kemampuan bahasa Inggris dan Prancis hingga tes menembak. Akhirnya, Ima benar-benar dinyatakan lolos dan siap berangkat ke Afrika.

“Dan akhirnya pada tanggal 27 Juni 2019, setelah seluruh proses persiapan selesai kami diberangkatkan oleh Indonesia menuju negara Republik Afrika Tengah untuk menjalankan misi perdamaian di sini selama 1 tahun di bawah kendali UN,” tutur Ima yang pernah mencicipi bangku kuliah di UGM sebelum memilih berkarier sebagai polisi ini.

Kini Ima sudah hampir satu bulan menempuh tugas di Bangui. Dia pun sangat menikmati hari-harinya di sana.

Berpatroli memastikan keamanan, kegiatan sosial, hingga mengajar anak-anak setempat belajar bahasa Indonesia. Tidak mudah memang.
Sehari-hari dia melihat orang menenteng senjata dengan enaknya. Tak jarang ia juga mendengar desing peluru saling bersahut-sahutan.
“Saya menikmatinya, Mas,” ungkapnya. (ds/sumber kumparan)