press enter to search

Minggu, 22/09/2019 04:18 WIB

Mengenang Kesultanan Turki Utsmani Bantu Aceh Lawan Portugis

Dahlia | Jum'at, 23/08/2019 01:10 WIB
Mengenang Kesultanan Turki Utsmani Bantu Aceh Lawan Portugis Sejumlah mahasiswa Aceh berziarah ke makam sejarah ulama-ulama Turki di Desa Bitai, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Indonesia, Rabu 21 Agustus 2019. Ratusan makam guru, ulama dan pejuang Turki di Bitai menunjukkan hubungan persaudaraan antara Aceh dengan Turki pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Inayatsyah dengan Kekaisaran Khalifah Turki Utsmani. (Khalis Surry - Anadolu Agency)

 

 

BANDA ACEH (aksi.id) -  Tepat 480 tahun lalu, para ulama, guru, dan prajurit Kesultanan Turki Utsmani berlayar menuju tanah Aceh untuk membantu melawan penjajah Portugis pada abad 16. 

Satu tayangan sinetron dari Turki oleh salah satu stasiun televisi swasta menggambarkan perjuangan itu. Sinetron berjudul “Abad Kejayaan” (atau Muhtesem Yüzyil dalam bahasa Turki). Sinetron tersebut mengisahkan tentang kehidupan Sultan Suleiman I, pemimpin Kesultanan Utsmani (Ottoman Empire).

Setidaknya, di dalam sinetron tersebut tergambar bagaimana Kesultanan Utsmani pada masa jayanya. Menjadi negara besar yang berpengaruh di Eropa, memiliki kekuatan militer yang tangguh, dan jangan lupakan meriam raksasa yang menjadi momok bagi bangsa Eropa pada saat itu.

Namun hanya sebagian orang yang tahu bahwa pada zaman dahulu, Kesultanan Turki Utsmani pernah menjalin hubungan diplomatik dengan salah satu kerajaan di Nusantara. Turki ikut bersaing dengan negara-negara Eropa lainnya dalam perdagangan rempah-rempah.

Tokoh Sultan Suleiman I dalam sebuah sinetron dari Turki. Berdasarkan catatan sejarah, Sultan Suleiman I pernah menerima utusan dari Kesultanan Aceh Darussalam ©
Tokoh Sultan Suleiman I yang diperankan dalam sebuah sinetron dari Turki. Berdasarkan catatan sejarah, Sultan Suleiman I pernah menerima utusan dari Kesultanan Aceh Darussalam © CTQuânCC BY-SA 4.0 (via Wikimedia Commons)

 

Riwayat Hubungan Aceh-Utsmani

Kesultanan Aceh Darussalam tercatat pernah memiliki hubungan yang dekat dengan Kesultanan Utsmani. Ismail Hakki Göksoy di dalam artikelnya berjudul “Ottoman-Aceh relations as documented in Turkish sources” menjelaskan hubungan antara dua kesultanan tersebut berdasarkan arsip dokumen-dokumen resmi Kesultanan Utsmani.

Kesultanan Aceh Darussalam mulai berdiri sejak abad ke-16 dengan Sultan Ali Mughayat Syah sebagai sultan pertamanya. Pada saat itu, Aceh merupakan kerajaan yang berpengaruh di kawasan Sumatera. Kesultanan Aceh Darussalam menjadi ekspansif pada era kepemimpinan Sultan Alauddin al-Kahhar. Untuk memperluas kekuasaan dan meningkatkan perekonomiannya, Aceh berambisi untuk menguasai Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan rempah-rempah internasional. Untuk itu, Aceh harus bersaing dengan Kesultanan Johor dan Portugis yang menguasai Malaka.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-16 ©
Wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-17 © Gunawan Kartapranata / CC BY-SA 3.0(via Wikimedia Commons)

 

Terdapat berbagai motif yang mendasari perselisihan antara Kesultanan Aceh dengan Portugis. Tidak hanya perkara politis, persaingan ekonomi hingga agama menjadi motif yang menggambarkan hubungan antara Aceh dan Portugis. Tidak hanya menguasai Malaka, Samudera Hindia pada saat itu didominasi oleh armada laut Portugis. Kapal-kapal dagang dari Aceh yang berlayar menuju Timur Tengah (dan sebaliknya) menjadi sasaran serangan kapal-kapal perang Portugis.

Merasa dirugikan dengan manuver Portugis, Aceh kemudian mengirimkan utusan ke Turki, meminta bantuan militer. Tercatat pada tahun 1547, di era Sultan Suleiman I, Duta Besar Aceh mendatangi Istanbul. Utusan dari Aceh tersebut meminta bantuan militer berupa armada laut serta meriam untuk menghadapi Portugis. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Sultan Suleiman I yang merasa bertanggungjawab melindungi kapal-kapal muslim dari serangan Portugis.

Sejak saat itulah, korespondensi antara Aceh dengan Turki pada abad ke-16 mulai intensif dan berlanjut di era pemerintahan Sultan Selim II. Sama seperti pendahulunya, Sultan Selim II juga memberikan bantuan militer berupa kapal, pasukan artileri, dan persenjataan lainnya yang dibutuhkan Aceh untuk menyerang Portugis. Untuk itu, Turki mengirim sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Laksamana Kurtoglu Hizir Reis ke Aceh. Meskipun kemudian ekspedisi tersebut dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman. Namun persenjataan dan teknisi militer Turki berhasil tiba di Aceh.

Sultan Selim II ©
Sultan Selim II © Johann Theodor de BryDomain Publik (via Wikimedia Commons)

Berdasarkan catatan Portugis pada tahun 1582, setiap tahun Aceh mengirimkan utusan beserta sejumlah hadiah seperti emas, batu mulia, rempah-rempah, dan parfum kepada sultan Utsmani. Selain itu, Aceh juga membangun perdagangan rempah-rempah ke Timur Tengah. Sebagai balasannya, Turki memberikan bantuan militer berupa persenjataan, ahli militer, serta perlindungan untuk Aceh. Hubungan tersebut kemudian menjadikan Aceh sebagai wilayah protektorat Kesultanan Utsmani hingga abad ke-18.

 

Surat yang ditulis oleh Sultan Selim II untuk Sultan Alauddin al-Kahhar. Surat tersebut tertanggal 16 Rabiul Awwal 975 H (20 September 1567) ©
Surat yang ditulis oleh Sultan Selim II untuk Sultan Alauddin al-Kahhar. Surat tersebut tertanggal 16 Rabiul Awwal 975 H (20 September 1567) | (Dalam buku "Mapping the Acehnese Past")

Menjadi bagian dari imperium Kesultanan Utsmani, Kesultanan Aceh Darussalam kemudian menjadi negara dengan kekuatan militer yang diperhitungkan di kawasan Sumatera dan Malaka. Beberapa kali Aceh mampu mengalahkan Portugis dalam berbagai pertempuran. Selain itu, kapal-kapal Aceh diizinkan menggunakan bendera Turki.

Lebih lanjut, bendera Kesultanan Aceh Darussalam berwarna merah dengan bulan sabit, bintang, dan pedang berwarna putih, menyerupai bendera Kesultanan Utsmani. Salah satu peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam, Meriam Lada Secupak, merupakan salah satu meriam pemberian dari Turki.

 

Meriam Lada Secupak, pemberian Utsmani untuk Aceh. Hingga kini meriam tersebut masih tersimpan di Belanda ©
Meriam Lada Secupak, pemberian Utsmani untuk Aceh. Hingga kini meriam tersebut masih tersimpan di Belanda | ottomansoutheastasia.org

 

Sejumlah meriam Turki milik Aceh yang dilucuti oleh Belanda pada tahun 1874 ©
Sejumlah meriam Turki milik Aceh yang dilucuti oleh Belanda pada tahun 1874 © Illustrated London News / Domain Publik(via Wikimedia Commons)

 

Dikenang masyarakat Aceh

Jasa-jasa mereka lalu dikenang masyarakat Aceh dengan merayakan 480 tahun hubungan Aceh Turki Selasa lalu di Banda Aceh.

Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) Aceh Mizuar Mahdi Al Asyi mengatakan jejak hubungan diplomatik antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Utsmani dapat terlihat dari Kompleks Makam Tengku Di Bitay di Desa Bitai, Banda Aceh.

Masyarakat Aceh menyebut komplek di sekitar makam ini sebagai “Kampung Turki”.

Berdasarkan catatan sejarah, kata Mizuar, nama Tengku Di Bitay diambil dari ulama Palestina yang memimpin rombongan Kesultanan Turki Utsmani ke Aceh.

Nama asli ulama tersebut adalah Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi yang kemudian dikenal dengan nama Tengku Syekh Tuan Di Bitai.

Berdasarkan catatan sejarah, saat itu Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Salahuddin.

Penulis Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) menyebutkan Sultan Salahuddin memerintah pada tahun 1528-1539.

Selama di Aceh, kata Mizuar, Tengku Di Batai berkontribusi dalam membantu Kesultanan Aceh dalam bidang pengajaran agama Islam.

“Beliau sangat dihormati karena kesehariannya digunakan untuk menerangi umat. Jadi Kesultanan Turki saat itu tidak hanya mengirim prajurit, tapi juga ulama dan guru,” kata Mizuar, yang masih keturunan Turki ini kepada Anadolu Agency pada Rabu di Banda Aceh.

Mizuar mengatakan komplek makam Utsmani ini juga menjadi tempat para prajurit Turki Utsmani dimakamkan.

Saat Utsmani melakukan ekspedisi, kata Mizuar, ratusan tentara dari Turki ini mendarat di Bitai dan mendirikan akademi militer.

Dalam perkembangannya, kata Mizuar, makam ini juga diperuntukkan bagi para bangsawan dan ulama-ulama Kesultanan Aceh Darussalam.

Untuk mengidentifikasi umur makam, Mizuar mengatakan makam yang memiliki nisan berasal dari periode awal dan penghujung abad ke-16 masehi.

Peneliti nisan ini mengatakan jumlah makam yang berasal dari abad ke 16 masehi berjumlah 8 nisan.

Juru kunci komplek makam ini adalah perempuan Aceh bernama Azimah.

Sebagai penjaga makam, Azimah bersama suami bertugas membersihkan makam setiap saat.

Jika rumput-rumput di sekitar makam panjang, suaminya bertugas memotongnya.

“Kami berdua mengabdikan diri untuk merawat makam leluhur kami,” ujar Azimah.

Perempuan berumur 47 tahun ini mengaku sudah menjadi penjaga makam sejak sebelum tsunami Aceh.

Dia menyampaikan sebelumnya Komplek makam porak-poranda saat tsunami menerjang Aceh pada 2004. Para korban tsunami juga banyak yang terdampar.

Beruntung, kata Azimah, Bulan Sabit Merah Turki datang untuk menyelamatkan makam. Lembaga asal Turki itu lalu melakukan pemugaran pada 2005.

“Bulan Sabit Merah Turki memugar makam ini dengan memberikan pagar dan memasang granit pada makam,” jelas dia yang juga menjadi korban tsunami.

Membuka tabir

Saat ini, kata Azimah, banyak orang yang datang ke komplek ini untuk memenuhi rasa penasarannya soal hubungan Turki Utsmani dan Aceh.

Mereka, tutur Azimah, datang dari dalam dan luar negeri seperti Malaysia, Jepang, Meksiko, negara-negara Afrika, dan negara-negara lainnya.

“Sudah banyak turis asing datang ke sini,” kata dia.

Salah satu pengunjung, Jihan Ashalia Zahrania, mengaku mendapatkan informasi berharga mengenai komplek ini.

Gadis, yang tengah studi di Universitas Istanbul, ini mengaku mendapatkan informasi berharga dalam ziarahnya ke makam ini.

“Kunjungan ini membuka pengetahuan saya, ternyata hubungan Aceh dan Turki itu sedekat ini,” kata dia.

Meskipun kuliah di Turki, dia sebelumnya mengira hubungan Turki dan Aceh sekedar kekerabatan.

Namun usai melihat makam, kata dia, ternyata Aceh dan Turki telah menjalin hubungan secara luas seperti pendidikan, militer, keagamaan, dan budaya.

Dia menyarankan agar bangunan makan dapat mendapatkan perhatian pemerintah karena ada beberapa bangunan yang rusak seperti atap museum.

“Ini sebagai tanda hormat kita kepada mereka pahlawan yang sudah membantu kita,” jelas Jihan.

Pemkot dukung pemugaran

Pemerintah Kota Banda Aceh menyampaikan sudah berdialog dengan Bulan Sabit Merah Turki untuk merenovasi kembali komplek makam ini.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengaku akan mendukung penuh pemugaran komplek makam ini agar dapat menjadi destinasi sejarah di Aceh.

“Kami mengharapkan ada pertemuan lanjutan dengan Bulan Sabit Merah Turki,” ujar Aminullah kepada Anadolu Agency.

Aminullah menegaskan Pemerintah Kota Banda Aceh siap merawat, dan mengelola melestarikan komplek makam karena situs ini merupakan warisan sejarah yang harus dihargai.

“Karena di situlah berada makam para ulama besar,” kata dia.

(Anadolu Agency dan sumber lainnya)

Keyword Aceh Ziarah