press enter to search

Sabtu, 28/11/2020 05:55 WIB

Tangguhnya Pelaut Pelni (2): Pernah Alami Kapal Nyaris Tenggelam

Dahlia | Jum'at, 17/04/2020 15:39 WIB
Tangguhnya Pelaut Pelni (2): Pernah Alami Kapal Nyaris Tenggelam Foto:istimewa

MAKASSAR (aksi.id) – Trisna Apriadi telah 26 tahun bekerja di Pelni. Sebagian besar kurun waktu itu dihabiskannya di 10 kapal.

Saat ini, dia telah enam bulan berada di KM Lambelu. Lamanya waktu di atas kapal tersebut karena adanya wabah Corona dan KM Lambelu dikarantina di Pelabuhan Makassar.

Sebagai ‘bas’ atau asisten perwira kamar mesin di kapal Pelni, segudang pengalaman dilalui. “Alhamdulillah, selamat ini lancar melayani, lancar bekerja,” tuturnya kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Jumat (17/4/2020).

Dia mengaku betah bekerja selama puluhan tahun karena kuat kebersamaan di kapal dan baiknya perhatian manajemen Pelni.

 

3172020125843172020121833

 

Dia mengungkapkan personel di kapal, termasuk pegawai mitra, selalu terjaga suasana kerja menyenangkan.

Meski demikian, dia mengungkapkan pernah mengalami duka saat berlayar. Kapal tempatnya dirinya menjadi kru mengalami musibah.

Kapal KM Leuser nyaris tenggelam karena tertabrak kapal pengangkut kayu di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, tahun 1996.

Haluan kapal kayu menabrak lambung dan tembus ke kamar mesin KM Leuser. Ketika kapal kayu ditarik, air sungai segera masuk ke dalam kapal yang hendak pulang ke Surabaya itu. Akibat selanjutnya adalah kapal nyaris tenggelam.

Seluruh kru tidak panik mengahadapnya. Mereka memberlakukan dan mengimplementasikan standard operation procedure (AOP) penyelamatan sekitar 900 penumpang dan 60 kru.

“Saya segera pakai pelampung, lalu membantu penumpang untuk memakai pelamlung dan naik ke perahu dari KM Leuser dan kapal penolong,” ungkapnya. Saat itu, banyak perahu nelayan membantu. Selain itu, terdapat pula kapal milik Kementerian Perhubungan, Polri dan TNI.

Dia bersyukur seluruh penumpang dan kru selamat. Pada gilirannya KM Leuser juga dapat diselamatkan. “Setelah kejadian itu, kru istirahat selama sebulan,” tutur Trisna Apriadi.

Kejadian lainnya adalah robeknya lambung KM Bukit Siguntang tahun 2003. Kapal rute Surabaya-Sampit-Semarang-Surabaya itu mengalami musibah setelah menyerempet karang.

“Alhamdulillah kapal masih tetap dapat terus belayar sampai docking,” ungkapnya.

Walau pernah mengalami kejadian mendebarkan selaigus menegangkan jantung itu, Trisna menegaskan tidak pernah kapok berlayar.

“Saya kadung cinta laut ya. Juga cinta Pelni,” kilahnya.(awe).