press enter to search

Kamis, 29/10/2020 21:08 WIB

Beginilah Keluasan Ilmu Sayyidah Aisyah, Istri Muhammad Rasulullah

Redaksi | Minggu, 19/04/2020 13:15 WIB
Beginilah Keluasan Ilmu Sayyidah Aisyah, Istri Muhammad Rasulullah Ilustrasi. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Sejak munculnya lirik lagu tentang istri Baginda Muhammad Rasulullah, Sayyidah Aisyah,  banyak orang kemudian mencari sosoknya. Mereka menemukan berbagai tulisan antara yang mengkritik dan yang memuji kehidupan Sayyidah.

Beliau memang sosok yang banyak ditulis dalam berbagai kitab. Penulis temukan misalnya, Ad-Durru al-Stamin min Sirah Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mu’minin Radhiallah ‘Anha, dari Markaz Buhust wa Dirasat. As-Sirah al-Mu’atharah fi Manaqib Ummi al-Mu’minin Aisyah, karya Turki bin Hasan. Qoshirah al-Waidh al-Andalusi fi Manaqib umm al-Mu’minin Al-Ashdiqah al-Aisyah, karya Abi Imran Musa. Dan banyak sekali kitab yang menceritakan beliau.

Beberapa tahun yang lalu saya membaca buku yang ditulis oleh seorang al-mustasyriq (orientalis), saya lupa judul bukunya. Ia banyak tuduhan yang kurang baik, bahkan sangat tidak pantas kepada Nabiyuna dan Ummahatul Mu’minin, terutama kepada Sayyidah Aisyah, terkait dengan umur pernikahannya, umur Nabi dan lainnya.

Mengapa anggapan ini muncul, karena penulis ini, membaca dan membandingkan dengan perempuan zamannya (modern, zaman ini), tidak melihat bagaimana kondisi perempuan pada masa Sayyidah Aisyah lahir, juga perempuan sebelum kelahiran beliau, dan juga mungkin beberapa tahun setelah beliau tiada.

Perempuan-perempuan pada masa Jahiliyah

Buku yang menceritakan perempuan pada masa ini terdapat ratusan bahkan ribuan buku, al-Mar’ah fi Al-Jahiliah, Makanah al-Mar’ah fi jahiliyah wa al-Islam, Haqiqah al-unsta fi Islam wa al-jahiliyah, Al-Ma’ah fi al-asr al-jahili, zawajul al-Mar’ah fi ashr al-Jahilily, juga Tarikh al-Arab qabla Islam.

Secara umum keadaan perempuan pra-Islam sangatlah mengenaskan. Tidak hanya di Jazirah Arab tapi di seluruh dunia, silahkan baca buku-buku terkait dengan perempuan pada tahun 600 M ke atas (pra-Islam). Walau tidak semua perempuan berada pada tempat yang kurang baik. Ada pula di Jazirah Arab, perempuan yang memiliki kekayaan, pintar, hebat mereka dapat memilih kedudukan sendiri.

Menurut Muarrikh Arab (Ahli sejarah Arab) tidak sedikit perempuan juga memiliki kebebasan pada masa itu. Ia mencontohkan, seperti Sayyidah Khadijah seorang pedagang kenamaan, kaya raya, cerdas dan hebat, Beliau bisa mempekerjakan orang laki-laki dalam bisnisnya. Dan beliau mengutus Saudaranya Nafisah binti Munabbih untuk melamar Nabiyuna Muhammad, ketika itu Muhammad sangat masyhur dan menjadi perbincangan masyarakat Arab, sehingga Khadijah ingin tahu lebih jauh tentangnya dan kemudian mengutus Maisaroh (laki-laki) untuk menyertainya dalam perdagangan ke negeri Syam serta untuk melihat akhlaknya Muhammad. Khadijah adalah sosok perempuan berpengaruh pada masanya.

Berbagai pendapat tentang perlakuan masyarakat terhadap perempuan pada masa Jahiliyah (pra-Islam), namun secara umum yang penulis temukan adalah mereka dalam kondisi paling buruk dalam sejarah (baca: Al-Mar’ah fi al-ashri al-Jahili, Abdurrahman At-Thukhi). Perempuan yang terlahir dari rahim Istrinya, maka tetiba wajah suaminya marah memerah (mubghid), semua pada bersedih (huzn, ka’ab) dan wajahnya menghitam (sawad). Sebagaimana juga diceritakan dalam Al-Qur’an.

Pernikahan pada masa sebelum Islam

Bagaimana pula orang jahiliyah memperlakukan perempuan dalam pernikahan, Ada 4 jenis pernikahan pada masa pra-Islam sebagaimana dalam hadis Nabi, yaitu: al-Raht, al-Rayah,al-istibdha’, dan al-Wiladah. Serta beberapa tradisi lainnya. Mislanya pernikahan Ar-Raht, beberapa laki-laki (di bawah 10 orang) menikahi satu orang perempuan dan menggaulinya, setelah hamil perempuan tersebut menunjuk satu dari sekian laki-laki sebagai bapaknya. Pernikahan ar-Rayah (bendera), seorang perempuan meletakkan bendera di depan rumahnya, bila ada laki-laki yang suka kemudian masuk dan mencalurinya, bila melahirkan ditentukanlah bapaknya oleh seseorang yang dianggap tetua.

Pernikahan istibdha’, seorang suami menyuruh istrinya untuk pergi kepada seseorang terhormat atau terpandang di tempat itu, kemudian istrinya melakukan hubungan dengannya, dengan harapan anak yang lahir seperti orang yang terpandang. Dan masih banyak jenis pernikahan pada masa itu yang memperlakukan perempuan dengan sewenang-wenang, paksaan, tanpa mahar dan lainnya (sila baca: Azzawaj qabla Islam)

Aisyah dan Keluasan Ilmu

Aisyah kecil sudah sangat siap menerima Ilmu, bahwa ia banyak mengingat masa kecilnya dan kemudian diriwatkan dalam banyak hadis. (Khalid Abdul Mun’im, Thoriq lil Islam).

قول الإمام الزُّهْري: “لو جُمِع علم عائشة إلى علم جميع أمهات المؤمنين، وعلم جميع النساء، لكان علم عائشة أفضل”.

“Seandainya ilmu yang dimiliki Sayyidah Aisyah dibandingkan dengan ilmu Ummahat al-Mu’minin yang lainnya dan bahkan dengan semua perempuan di muka bumi, maka niscaya Sayyidah Aisyah yang lebih unggul keilmuannya”

Sebagaimana juga disampaikan oleh Mahammad bin ‘Ali dalam makalahnya “Hadist Zawajun Nabi bi ‘Aisyah”

….وكان نساء قريش يبلغ بعضهن عند السنة التاسعة كما قال الإمام الشافعي، هنأها النساء بهذا الزواج فقلن: على الخير والبركة وعلى خير طائر، ومثل هذا النكاح لم يطعن أحد به في ذلك العصر مع كثرة أعداء رسول الله صلى الله عليه وسلم من اليهود والمشركين، فقد كان معروفاً في الجاهلية، وجاء الإسلام وأقره، وهو أن الصغيرة تخطب وتتزوج بإذن وليها، وقد كانت عائشة ستزوج قبل رسول الله صلى الله عليه وسلم لابن المطعم بن عدي كما روى ذلك الطبري. ينظر: تاريخ الطبري (3/ 162).

….dan beberapa perempuan-perempuan Quraisy dianggap baligh pada masa itu ketika sudah berusia sembilan tahun, sebagaimana pendapat Imam Syafi’i. Pada waktu itu, banyak perempuan mengucapkan selamat kepada Sayyidah Aisyah atas pernikahannya dengan Nabi, mereka mengucapkan “Bagimu Kebaikan dan keberkahan, serta kebaikan dalam setiap aktifitasmu…dan pernikahan seperti ini (Nabi dengan Aisyah) tidak ada seorang pun yang mencela pada masa itu sedangkan musuh Nabi dari kalangan Yahudi dan Nasrani tidak sedikit, dan pernikahan seperti itu cukup dikenal di kalangan orang-orang Jahiliyah, kemudian Islam datang dan menetapkannya, yaitu seorang perempuan dilamar dan dinikahi dengan izin orang tuanya (wali). Dan Aisyah sebelum dikhitbah oleh Nabi, pernah pula dikhitbah oleh Ibn al-Muth’im bin ‘Adi (dalam Tarikh Thabari, 3/162).

Pernikahan Nabi dengan Sayyidah Aisyah yang berawal dengan pesan dalam mimpi Nabi, Malaikat yang datang dengan membawa gambar Sayyidah dalam sepotong kain sutera. Kemudian cerita Khaulah binti Hakim yang menanyakan kepada Nabi akan keinginan menikah lagi setelah wafatnya Sayyidah Khadijah al-Khubra. Dan Khaulah yang kemudian menjadi jembatan khitbah, dan pergi ke rumah Abu Bakar As-Shiddiq, kemudian bertemu dengan Ibundanya Ummu Rumman, dan setelah Khaulah menemui Abu Bakar. Kisah pernikahan Nabi dan Aisyah banyak sekali diceritakan, sila merujuk buku-buku di atas, terutama ‘Aisyah Ummul Mu’munin.

Alim dan faqih  

Perempuan -perempuan mutiara itu sangat banyak bahkan tak terhitung jumlahnya. Bila bersamudera dalam buku  A’lam an-Nisa’ serasa kealiman mereka sulit tertandingi. Tidak sedikit para kibar ulama, guru mereka adalah seorang perempuan.  Termasuk guru-guru Imam as-Syafi’i, Imam Bukhari, Imam as-Suyuthi, as-Syakawi, Imam al-Hafidz al-Mundziri, dan  ulama-ulama hebat lainnya.

Asy-Syaukani dalam Nailul Authar memuji banyak perempuan yang alim dan periwayat hadis. “Tidak seorang pun mengatakan bahwa ada sebuah riwayat ditolak dari seorang perempuan, karena dirinya perempuan. Dan sangat banyak sunah yang diambil oleh umat yang perawinya adalah seorang perempuan (sahabiyah), dan tidak ada yang mengingkarinya, walau mereka hanya memiliki ilmu hadis yang sedikit,” kutip Asy Syaukani.

Hani’ Dhawuh dalam Faqihat ‘al-Lamna Fuqahah, Nisa’un Tulaqqa al-ilma ‘Ala Ayadihihinna Kibar ‘Ulama, menjelaskan tentang perempuan-perempuan yang menjadi guru dari ulama-ulama besar. Adalah Sayyidah Aisyah, beliau perempuan pertama yang sangat memahami ilmu agama (faqihah) dan menjadi guru dari para sahabat sebagai tempat bertanya dari berbagai persoalan agama setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian Syifa’ binti Abdullah yang dikenal sosok intelektual perempuan, dan termasuk penulis langka pada masanya.

Ada pula, Khadijah Qairuniyah, Karimah binti Ahmad, Ummu Zainab al-Baghdadiyah, Umm Abdullah Zainab binti al-Kamal, Sakinah binti al-Husain, Karimah al-Maruziyah, Umm Hasan binti al-Qhadi dan masih banyak perempuan-perempuan hebat lainnya dalam berbagai disiplin ilmu.

Nabi dan Syariat Islam tidak pernah membeda-bedakan laki-laki atau perempuan dalam mendapatkan ilmu.

نِعمَ النساءُ نساءُ الأنصار لم يمنعهن الحياء أن يتفقهن في الدين”.

“Sebaik-baik perempuan, adalah perempuan Anshar, mereka tidak malu untuk mengkaji dan mendalami agama.”

Tugas perempuan bukan hanya masak (memasak), macak (berdandan), manak (melahirkan), melainkan juga mencari ilmu, atau berhak menyerap ilmu.  Bagaimana peran perempuan pada masa Nabi ﷺ sungguh luar biasa. Al-Qur’an pertama disimpan dan dijaga oleh  seorang perempuan, Sayyidah Hafsah binti Umar bin Khattab, dan Nabi meminta asy-Syifa’ mengajari Hafsah menulis.

Kembali kepada ke-aliman Sayyidah Aisyah, menurut Abu Ubaidah dalam Inayah an-Nisa bi al-hadis, Aisyah telah meriwayatkan banyak hadis dari Nabi Muhammad ﷺ yang tak lain juga sebagai suaminya. Juga dari Ayahnya, Abu Bakar ra, dari Umar bin Khattab ra, Fatimah az-Zahra ra, Sa’ad bin Abi Waqash ra, Hamzah bib Amr al-Aslami ra, dan Jadzamah binti Wahab ra, sebayak 2210 hadis.

Dalam Kitab Zaujatun Nabi fi Waqi’ina yang mengutip perkataan Imam az-Zarkasih. Bahwa dalam kitab al-Ijabah Aisyah direkam khusus dalam satu bab yang menjelaskan tentang keistimewaannya bersama tujuh sahabat yang meriwayatkan hadis. Dan Jamaluddin bin Dhahirah merangkumnya dalam puisi berikut:

سَبْعٌ مِن الصَّحبِ فَوقَ الأَلفِ قد نَقَلُوا * مِن الحَدِيثِ عن المُختَارِ خَير مُضَر

أَبُو هُرَيرَةَ سَعْدٌ جَابِرٌ أَنَسٌ * صِدِّيقَةٌ وابْنُ عَبَّاسٍ كَذَا ابنُ عُمَر


(Tujuh sahabat meriwayatkan hadis lebih dari seribu, dari seorang Nabi terbaik dan terpilih.

Yaitu, Abu Hurairah, Sa’ad, Jabir, Anas, Aisyah (Shiddiqah, julukan dari S. Aisyah), Ibnu Abbas dan Ibnu Umar)

Urwah bin Zubair juga menuturkan tentang Sayyidah Aisyah. “Saya tidak mengetahui seseorang yang lebih memahami al-Qur’an, ilmu faraid, tentang halal dan haram, juga puisi, Amsal Arab dibandingkan Aisyah ra.”

Sedangkan Ibnu Abdul Barri mengatakan bahwa, “Sesungguhnya Aisyah adalah satu-satunya perempuan di masanya yang menguasi tiga ilmu sekaligus, ilmu fiqih, kedokteran dan syair.”

Sayyidah Aisyah ra dalam kealimannya dan keluasan ilmunya tentunya tidak diragukan lagi, beliau laksana samudera yang setiap sahabat bertanya as-Siddiqah mampu menjawabnya.

“Tidaklah para sahabat mendapatkan masalah-masalah yang sulit dan kemudian bertanya kepada Aisyah ia mengetahui jawabannya,” demikian penuturan Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ary.

Terus pertanyaannya, dari manakah keluasan ilmu yang beliau dapatkan? Sedangkan beliau tidak pernah ke luar ke mana-mana. Ini akan kita ulas pada tulisan berikutnya.( ds/sumber Dr Halimi Zuhdy, artikel diambil dari Facebook/Hidayatullah.com)