press enter to search

Jum'at, 22/01/2021 07:11 WIB

Resesi Ekonomi Indonesia jadi `Risiko Nyata`, Diprediksi Minus pada Triwulan Ketiga

Redaksi | Rabu, 26/08/2020 20:13 WIB
Resesi Ekonomi Indonesia jadi `Risiko Nyata`, Diprediksi Minus pada Triwulan Ketiga Uang pecahan Rp75.000 dirilis khusus untuk memperingati kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia.

JAKARTA (Aksi.id) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga berada di kisaran 0 persen hingga minus 2 persen. Adapun untuk keseluruhan tahun 2020, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berada di kisaran -1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

"Kami melihat di kuartal III, down side-nya ternyata tetap menunjukkan suatu risiko yang nyata. Jadi untuk kuartal III kami outlook-nya antara 0 persen hingga negatif 2 persen. Negatif 2 persen karena ada pergeseran dari pergerakan yang terlihat belum sangat solid, meskipun ada beberapa yang sudah positif," jelas Sri Mulyani ketika memberikan paparan dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (25/08).

Menkeu Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan negatif pada kuartal III mungkin saja terjadi karena tingkat konsumsi masyarakat masih lemah, meski mendapat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.

"Tapi tidak bisa hanya dari bansos untuk mengungkit konsumsi agar mendekati nol persen kalau kelas menengah dan atas belum recovery belanja konsumsinya. Kalau hanya dari bansos, growth (penyaluran) tinggi, tapi tetap tidak bisa mengembalikan fungsi konsumsi," terang Bendahara Negara.

Sri Mulyani pun mengatakan, kunci utama untuk mengerek kinerja perekonomian pada kuartal III adalah investasi dan konsumsi domestik.

"Kalau tetap negatif meski pemerintah sudah all out maka akan sulit untuk masuk ke zona netral tahun ini," ujar Sri Mulyani.

Dalam pengumuman pada Rabu (05/08), BPS menyatakan angka Produk Domestik Bruto pada triwulan II 2020 menyusut sebesar 5,32%.

Penyusutan ini lebih besar dari prediksi pemerintah dan Bank Indonesia. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi PDB di kuartal II akan jatuh -3,8%, sementara Bank Indonesia memprediksi penurunan sebesar -4,8%.

"Perekonomian Indonesia pada triwulan II 2020 secara y-o-y, dibandingkan triwulan II 2019 mengalami kontraksi sebesar 5,32%. Kalau kita bandingkan dengan triwulan I 2020, atau q-o-q, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II ini juga mengalami kontraksi -4,19%," ujar Suhariyanto, Kepala BPS.

Terdampak wabah Covid-19, Jepang kembali alami resesi dan mungkin akan catat `kinerja ekonomi terburuk`
Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan bahwa kontraksi PDB itu berarti "situasi resesi ekonomi sudah di depan mata."

"Di kuartal III kemungkinan besar kita akan resesi, kalau melihat kuartal II ini kita cukup dalam minusnya," kata Bhima.

"Yang perlu diperhatikan ini kan adanya penurunan tajam pada konsumsi rumah tangga, karena adanya pandemi membuat masyarakat tidak yakin untuk berbelanja, dan akhirnya berpengaruh juga pada industri manufaktur yang turun dan sektor perdagangan turun."

Ia mengatakan, ini adalah penurunan ekonomi tahunan Indonesia terburuk pertama sejak dihantam krisis moneter 1998—ketika itu, ekonomi Indonesia anjlok sampai minus 13,13%.

"Resesi itu kan dua kuartal berturut-turut [pertumbuhan PDB] kita negatif, resesi yang sesungguhnya itu nanti ketika kita kuartal ketiga kita akan negatif," ujar Bhima.

"Tapi ini ketika penurunannya relatif tajam secara year-on-year, maka bisa dikatakan ini resesi technical, jadi secara data ini sudah menunjukkan adanya resesi karena penurunannya cukup tajam karena tidak mungkin di kuartal III bisa kembali positif."

Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan PDB pada kuartal I sebesar 2,97%. Indef memprediksi bahwa penurunan di kuartal III akan sebesar -1,7%.

Jika ekonomi memasuki resesi, para pencari kerja di Indonesia bisa kesulitan mencari lowongan pekerjaan dalam beberapa bulan ke depan.

Pendapatan korporasi dan pelaku usaha juga bisa menurun lantaran berkurangnya daya beli masyarakat, kata seorang pengamat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani telah dua kali membeberkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam kuartal berjalan dan beberapa kuartal ke depan, dan proyeksinya suram.

Pertumbuhan PDB di kuartal III, yang dimulai per Juli, diprediksi akan tumbuh di kisaran 1,4%, atau melemah sampai minus 1,6%.

Untuk kuartal IV, pemerintah Indonesia berharap ekonomi mulai mencatatkan pertumbuhan 3,4%, atau paling sedikit 1%.

Jika pertumbuhan ekonomi minus dalam dua triwulan berturut-turut, maka bisa dikatakan Indonesia mengalami resesi, kata Sri Mulyani.

"Kami harapkan di kuartal III dan kuartal IV (2020), pertumbuhannya bisa recover (pulih), dalam hal ini bisa 1,4 persen atau kalau seandainya kita dalam zona negatif, bisa saja minus 1,6 persen.

"Itu yang saya sebutkan technically kita bisa resesi kalau kuartal II negatif, kuartal III nya juga negatif, maka Indonesia secara teknis bisa resesi," kata Sri Mulyani saat rapat bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (22/06).

Sulitnya mencari lapangan pekerjaan

Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, dampak dari resesi yang berpotensi paling dirasakan masyarakat adalah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, disusul dengan jatuhnya daya beli masyarakat karena berkurangnya pendapatan.

"Kenapa lapangan pekerjaan jadi susah [ditemukan]? Karena aktivitas-aktivitas ekonomi belum kembali normal.

"Kemarin dunia usaha mengatakan, begitu ada pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), karena masih harus memenuhi protokol Covid-19, maka pekerja-pekerja yang mereka rumahkan tidak full 100 persen mereka bisa pekerjakan kembali.

"Kemungkinan, untuk rata-rata industri, yang bisa mereka pekerjakan kembali tinggal 50 persen, artinya 50 persen sisanya ini, yang sudah terlanjur terdepak dari lapangan kerja ini, mereka harus mendapatkan pekerjaan dari mana?" kata Enny saat dihubungi BBC Indonesia pada Selasa (23/06).

Hal itu tengah dirasakan oleh Dimas Aji Pratama, yang telah kehilangan pekerjaannya di sebuah ritel akibat pandemi Covid-19.

Pria berusia 24 tahun asal Purwokerto, Jawa Tengah tersebut baru bekerja selama kurang lebih dua bulan ketika ia dipanggil staf personalia untuk diberi surat Pemutusan Hubungan Kerja.

"Saya baru masuk dunia kerja, awal masuk Februari, terus dapat PHK akhir April," kata Dimas, yang baru lulus kuliah pada November tahun lalu tersebut.

Ia tidak sendiri. Rekan-rekannya sesama peserta pelatihan manajemen di sebuah gerai ritel di Jakarta tersebut, dengan jumlah 42 orang, juga di-PHK secara bergiliran.

Setelah di-PHK, ia memutuskan kembali ke rumah orangtuanya di Purwokerto. Setelah Lebaran, Dimas menghabiskan waktu sehari-harinya untuk melamar pekerjaan, namun hingga kini belum mendapat panggilan.

"[Saya sudah melamar ke] cukup banyak [perusahaan], lebih dari 20," kata Dimas.

"Sampai saat ini masih belum ada kabar, karena saya juga baru mulai mencari pekerjaan lagi setelah Lebaran kemarin.

"Kalau saya sendiri merasanya cukup sulit untuk mencari pekerjaan, apalagi saya berdomisili di luar Jabodetabek, karena kebanyakan perusahaan, kalau kita apply sekarang, pastinya harus ada proses interview, saya harus berangkat dari Purwokerto ke Jakarta dan dari sisi transportasi juga sulit."

Dimas kini harus mengetatkan ikat pinggang. Ia adalah tulang punggung keluarga, mengingat ia tinggal bersama ibunya yang berjualan jajanan pasar.

Usaha sang ibu memberikan Dimas inspirasi usaha jika ia masih sulit mendapatkan pekerjaan dalam beberapa bulan ke depan.

"Kalau misal dalam beberapa bulan ini, masih sulit untuk bekerja, kemungkinan saya mencoba buat buka usaha. Misalnya usaha makanan, atau mencoba mengembangkan usaha orang tua," kata Dimas.

Dalam resesi, para sarjana baru, atau fresh graduate, yang mencari pekerjaan untuk pertama kalinya mungkin akan sulit mendapatkannya. Ini telah diantisipasi oleh Putri Nurdivi Djamil, yang akan lulus kuliah September mendatang.

"Ketika kemarin aku ngobrol di tempat magang aku, itu agency advertising sama public relation, dua-duanya sekarang sedang hiring freeze. Bahkan intern saja pun mereka tidak hire.

"Jadi yang seperti ini susah banget. Makanya aku juga struggling, aku belakangan ini, dalam empat tahun terakhir melakukan banyak hal, kita improve our skills ourselves, tapi ujung-ujungnya ini.

"Bukan karena kita tidak kompeten, tapi karena mungkin salah satu masalah yang paling kencang adalah bisnisnya juga semakin tidak jalan," kata mahasiswi yang tengah menyelesaikan kuliah di Jepang tersebut, tapi tidak bisa kembali ke sana karena wabah virus corona.

Putri menambahkan beban sarjana yang lulus tahun ini lebih berat karena mereka tidak hanya bersaing sesama angkatan 2020, namun juga mereka yang lulus tahun lalu, seperti Dimas, yang masih mencari pekerjaan atau terkena PHK saat ini.

Apa itu resesi?
Enny Sri Hartati, direktur Indef, mengatakan bahwa ekonomi sebuah negara bisa dikatakan mengalami resesi jika terjadi "penurunan ekonomi secara eksesif."

Enny mengatakan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia mencatatkan inflasi yang sangat rendah pada bulan Mei, hanya 0,07 persen, salah satu indikasi bahwa daya beli masyarakat sedang sangat jatuh.

Inflasi merupakan kenaikan harga barang-barang dan jasa yang salah satunya disebabkan oleh melonjaknya permintaan. Oleh karenanya, daya beli masyarakat yang lemah bisa menurunkan tingkat inflasi.

Belanja rumah tangga jelang Hari Raya Idul Fitri dan sepanjang Ramadan, yang tahun ini jatuh pada bulan Mei, selama ini bisa diandalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal yang mencakup bulan dan hari suci umat Islam tersebut.

Rendahnya daya beli masyarakat saat Lebaran bisa menjadi indikasi bahwa ekonomi pada periode April-Juni tidak tumbuh dan justru melemah, atau minus. Resesi akan terjadi jika Indonesia mencatatkan pertumbuhan minus dalam dua triwulan berturut-turut. (ds/sumber BBC Indonesia)