press enter to search

Senin, 26/10/2020 14:36 WIB

Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan 2 Masjid di Selandia Baru Dipenjara Seumur Hidup, Penyitas WNI: Tak Gantikan Kehilangan Kami

Redaksi | Kamis, 27/08/2020 15:10 WIB
Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan 2 Masjid di Selandia Baru Dipenjara Seumur Hidup, Penyitas WNI: Tak Gantikan Kehilangan Kami Brenton Tarrant, Pelaku Penembakan 2 Masjid di Selandia Baru.

SELANDIA BARU (Aksi.id) - Brenton Tarrant menghadiri sidang di Pengadilan Tinggi di Christchurch, Selandia Baru.

Seorang warga Indonesia yang menjadi penyintas insiden penembakan di masjid Selandia Baru mengatakan, hukuman apapun yang dijatuhkan terhadap Brenton Tarrant "tidak bisa menggantikan kehilangan yang kami alami".

Hakim pengadilan di Selandia Baru menghukum Brenton Tarrant, warga Australia yang menembak mati 51 jemaah Muslim di dua masjid di Christchurch tahun lalu, dengan hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat pada sidang hari Kamis (27/08).

Menanggapi hukuman itu, Irfan Yunianto, selaku penyintas penembakan di Masjid Al Noor, mengaku lega hukuman telah dijatuhkan. Meski demikian, masih ada ganjalan dalam benaknya.

"Saya termasuk yang tidak terluka, tidak tertembak, tapi trauma psikis masih tetap hingga saat ini. Kemudian ada juga teman saya yang sampai saat ini tidak bisa bekerja karena luka tembak; tidak semua peluru bisa diangkat ... Sekalipun dia dihukum mati andaikata sistem hukum membolehkan, tetap tidak bisa membayar kehilangan yang kami alami," papar Irfan kepada wartawan BBC News Indonesia, Pijar Anugerah, melalui telepon.

Walau kejadian berlangsung tahun lalu, penembakan tersebut masih membekas dalam pikirannya.

"Karena saya berada di lokasi, kemudian juga teman-teman saya banyak yang meninggal, lalu juga saya melihat sendiri bagaimana korban tembak di depan saya yang saya dan teman-teman berusaha menyelamatkan. Trauma psikis itu ada, misalkan, yang paling umum, mudah anxiety [gangguan cemas], gugup, atau panik, mudah untuk grief [sedih]. Lalu juga muncul rasa waswas," tutur Irfan.

Kecemasan itu, menurutnya, turut dirasakan sejumlah temannya.

"Meskipun masjid sudah di-improve sistem security-nya, masih ada juga teman-teman yang ketika ke masjid itu masih merasa khawatir terhadap keselamatan. Dan ada teman-teman yang sama sekali tidak mau ke masjid Al-Noor, tapi pindah ke Lynwood karena merasa lebih aman," paparnya.

Cerita WNI jelang vonis penembakan di dua masjid Selandia Baru: Sempat merasa takut, tapi dapat dukungan penuh
Dukungan warga Selandia Baru setelah serangan masjid: `Kita tak takut lagi`

Kesaksian mahasiswa Indonesia setelah serangan masjid di Selandia Baru: `Warga Christchurch menerima kami dan bersimpati`
Dalam sidang vonis, Hakim Cameron Mander mengatakan dirinya tidak ragu bahwa Tarrant sengaja pindah dari Australia ke Selandia Baru demi menyerang komunitas Muslim.

"Setiap pembunuhan adalah produk perencanaan yang lama dan penuh perhitungan serta dilakukan dengan taraf kekejian yang tinggi dan tak berperasaan. Beberapa korban adalah anak-anak. Lainnya dibunuh selagi mereka terbaring dengan luka dan tak berdaya."

"Korban-korban Anda telah menunjukkan ketabahan luar biasa, namun saya tidak bisa mengabaikan kerusakan pada rasa aman serta kesejahteraan komunitas Muslim baik di Christchurch maupun secara luas di Selandia Baru."

Meski Tarrant mengaku bersalah membunuh 51 orang, 40 percobaan pembunuhan, dan satu dakwaan kasus terorisme, hakim mengatakan: "Sejauh penilaian saya, Anda sama sekali tidak punya empati terhadap korban-korban Anda.

"Menurut observasi saya, Anda tetap sepenuhnya memikirkan diri sendiri...Anda tampak tidak menyesal atau malu."

Jaksa Penuntut Umum, Mark Zarifeh, mengatakan kasus ini "menimbulkan bekas yang menyakitkan dan memprihatinkan pada sejarah Selandia Baru".

"Jelas dia adalah pembunuh terkeji di Selandia Baru".

Tarrant, yang memilih mewakili dirinya sendiri, mengatakan tidak punya pernyataan apapun. Dia mengangguk ketika ditanya apakah dia paham bahwa dirinya punya hak untuk menyampaikan sesuatu.

Seorang pengacara yang disediakan mengatakan Tarrant bicara kepadanya bahwa dia tidak menentang hukuman dipenjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Sebelum membacakan putusan, hakim memaparkan identitas dari 51 korban tewas dan 40 luka secara bergantian—serta apa dampak kematian mereka terhadap keluarga dan teman.

Pengadilan juga telah menggelar sidang selama empat hari untuk mendengarkan pernyataan hampir 90 orang yang terdiri dari penyintas dan keluarga penyintas serangan di dua masjid Kota Christchurch.

Sidang pada Rabu (26/08) diwarnai derai air mata, pembacaan Alquran, dan foto-foto para korban.

Inilah sebagian dari pernyataan mereka yang kuat.

`Air mata ini bukan untuk Anda`

Ayah Sara Qasem meninggal dunia di Masjid Al Noor.

"Nama saya Sara Qasem. Putri dari seorang pria yang bersinar redup... Abdelfattah Qasem - ingatlah nama itu," kata perempuan berusia 24 tersebut.

Ia menceritakan saat-saat terakhir ayahnya, dengan mengatakan: "Saya bertanya-tanya apakah ia kesakitan, apakah ketakutan, dan apa yang dipikirkan di saat-saat terakhir. Dan lebih dari apapun di dunia, saya berharap saya bisa berada di sana memegang tangannya dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi saya tidak bisa melakukan itu."

Ditambahkan ia dan ayahnya punya rencana bersama yang sekarang tak bakalan terwujud, "yakni untuk bepergian bersamanya. Mencium aroma masakannya."

Qasem terlihat menguatkan dirinya saat ia mulai menangis. Ia melihat Tarrant dan mengatakan "air mata ini bukan untukmu."

`Putra saya bertanya, mengapa ia membunuh baba saya?`
Hamimah Tuyan, istri Zekeriya Tuyan, yang berjuang selama 48 hari sebelum meninggal karena luka-lukanya, mengatakan ia merindukan suaminya.

"Tidak ada uang sebanyak apa pun yang dapat mengembalikan ayah dari anak-anak saya dan suami saya. Saya merindukan masakan [nya], lelucon tak lucunya yang khas bapak-bapak, dengkurannya. Dia adalah pengawal saya, penghibur saya, penenang saya, sahabat saya," katanya .

"Anak laki-laki tertua saya hanya memiliki lima tahun kenangan dengan ayahnya, anak saya yang kecil- dan itu tidak cukup. Anak saya bertanya, mengapa dia membunuh baba (ayah) saya?

"Untuk membantu anak-anak saya mengerti, saya menjelaskan kepada mereka bahwa orang bodoh itu seperti anak laki-laki di sekolah mereka, yang tidak tahu cara bermain dengan anak-anak lain di pra-sekolah, jadi dia berkomunikasi dan mengungkapkan ketakutannya dengan memukul mereka terlebih dahulu.

"Saya melihat kerinduan di mata putra saya saat dia melihat anak laki-laki lain berpegangan tangan, membangun Lego bersama ayah mereka - bagaimana saya, ibu mereka, menghibur hati mereka yang sakit? Putra saya sangat mencintai baba mereka, biasanya mereka akan melompat ke tubuh ayah mereka, menciumnya setiap hari.

"Sekarang baba mereka tidak akan berada di sini untuk merayakan kesuksesan masa depan mereka - mereka tidak akan memiliki ayah yang akan memberi contoh hidup pada mereka.

"[Tetapi] tindakan keji Anda telah menyatukan ribuan orang Selandia Baru dalam solidaritas dengan kami. Saya merasa Anda adalah korbannya di sini - kami adalah penyintas."

Ahad Nabi kehilangan ayahnya yang sudah lanjut usia, seorang haji di masjid Al Noor. Berbalut jersey klub rugby Warriors Selandia Baru, Ahad tidak menahan amarahnya saat berbicara dengan Tarrant.

Ia menyebut Tarrant sebagai "belatung", lalu mengatakan: "Ayahmu adalah sampah dan Anda menjadi sampah masyarakat. Anda pantas untuk dikuburkan di tempat pembuangan sampah."

ChristchurchSUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Keterangan gambar,
Ahad Nabi tidak menutupi kemarahannya.

Dia juga meminta hakim untuk memastikan bahwa "sampah ini tidak pernah diizinkan untuk keluar dari penjara seumur hidupnya".

Ia menambahkan "ayah saya yang berusia 71 tahun dapat menghancurkan Anda menjadi dua bagian jika Anda menantangnya untuk berkelahi".

Maysoon Salama, ibu dari Muhammad Ata Elayyan, menangis ketika dia berbicara tentang saat-saat terakhir sebelum kematian putranya.

Salama didampingi oleh temsan-teman dan keluarganya saat dia berbicara di pengadilan. Ia mengatakan bahwa sebagai seorang ibu, hatinya hancur "jutaan kali ... seperti merasakan sakit persalinan lagi dan lagi".

"Saya terus mencoba membayangkan bagaimana perasaan Ata yang saya cintai pada saat penyerangan itu," katanya.

"Bagaimana dia menghadapi penembak ... apa yang ada dalam pikirannya ketika dia menyadari bahwa dia akan meninggalkan kehidupan ini? Anda memberi diri Anda otoritas untuk mengambil jiwa 51 orang yang tidak bersalah, satu-satunya kejahatan di mata Anda adalah menjadi Muslim. "

Presentational grey line
`Anda membuat kami bersatu dengan lebih banyak tekad dan kekuatan`.
Wasseim Sati Ali Daragmih bersama putrinya di Masjid Al Noor ketika mereka ditembak beberapa kali.

Daragmih terlihat tegar ketika dia mendekati mimbar, berbicara langsung kepada Tarrant.

"Selamat siang semuanya - kecuali Anda," katanya. "Syukurlah kami selamat karena Anda tidak tahu bagaimana cara menggunakan senjata - kecuali dari titik nol."

Wasseim Daragmih mengatakan Brenton Tarrant gagal mencapai tujuannya.

Tarrant sendiri tertawa terbahak-bahak - lalu menahan diri dan menutup mulutnya.

Kata-kata Daragmih dengan cepat menjadi serius, dia mengatakan Tarrant telah "gagal" untuk menghancurkan komunitas mereka ".

"Anda mengira tindakan Anda telah menghancurkan komunitas kami dan mengguncang keyakinan kami, tetapi Anda belum berhasil. Anda telah membuat kami bersatu dengan lebih banyak tekad dan kekuatan," katanya.

"Jadi Anda telah gagal sepenuhnya. Jadi Anda telah gagal sepenuhnya." (ds/sumber BBC Indonesia)