press enter to search

Sabtu, 25/05/2024 17:55 WIB

Lebih Dekat dengan Masjid Raya Al Mubaraq, Tertua di Karimun

Redaksi | Kamis, 20/04/2023 15:48 WIB
Lebih Dekat dengan Masjid Raya Al Mubaraq, Tertua di Karimun Masjid tertua di Karimun

KARIMUN (aksi.id) - Mari mengenal lebih dekat Masjid Raya Al Mubaraq di Kelurahan Meral, Kecamatan Meral, yang merupakan masjid tertua di Karimun.

Ketua Pengurus Masjid Al Mubaraq Raja Syirwansyah menceritakan sejarah masjid yang termasuk peninggalan Kerajaan Riau di Pulau Karimun Besar ini.

Raja Syirwansyah masih keturunan dari Raja Haji Fisabilillah.

Dia menyebut, sejarah Kerajaan Riau yang bermuara pada Masjid Al-Mubaraq bermula pada Kerajaan Man Sri Rajapahit, Sri Wijaya Kerajaan Hindu di Tumasik, lalu ke Malaka, kemudian ke Johor dan Riau.

Masjid Al-Mubaraq didirikan Raja Abdullah bin Raja Ahmad Engku Tuah, yang ketika itu menjadi Penasehat Kerajaan Riau.

Masjid Al Mubaraq dibangun atas tanggung jawab moral Raja Abdullah sebagai Amir, yang merupakan perwakilan dari Kerajaan Pulau Penyengat Sri Indra Sakti.

Saat itu Pulau Penyengat menjadi pusat Kerajaan Riau. dan seiring waktu, pihak kerajaan melihat potensi daerah Karimun sebagai wilayah yang strategis dari aspek ekonomi dan politik.

Selanjutnya diutus perwakilan kerajaan untuk meninjau lokasi di Karimun hingga dalam perjalanannya, Raja Abdullah yang menjadi Amir atau penguasa di Pulau Karimun.

Adapun wilayah kekuasaan meliputi Karimun, Moro, Kundur, dan Pulau Kateman di Indragiri.

Melihat akta yang ada, Masjid Al Mubaraq dibangun pada 1301 Hijriah. Namun pembangunan Masjid Al Mubaraq dilakukan pada 1825 Hijriah.

Dijelaskan, Raja Abdullah se-zaman dengan Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat.

Adapun pembangunan Masjid Al Mubaraq menggunakan biaya pribadi, sebagai wujud kepala pemerintahan yang disebut Amir untuk mengayomi masyarakat beragama dengan benar.

Dengan begitu, terbangunlah Masjid Al Mubaraq yang berarti berkah dalam Bahasa Arab.

Masjid Al Mubaraq termasuk ikon Karimun, yang menandai bahwa masyarakat saat itu sudah memeluk agama Islam.

Ditandai juga dengan pusara makam Raja-raja atau para pendiri Masjid Al Mubaraq yang berada tepat di samping bangunan masjid.

Ada pun makam yang pusaranya tepat berada di Masjid Al Mubaraq di antaranya, Raja Ishak sebagai adik, kemudian Raja Sulaiman sebagai abang, Raja Usman Abdullah yang wafat pada 1956 dan merupakan Amir terakhir di Pulau Karimun.

Dengan berakhirnya masa kesultanan Amir ke empat, Raja Abdullah perwakilan kesultanan yang berada Pulau Karimun, maka terbentuk NKRI.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Al Mubaraq telah dilakukan renovasi pada bagian sayap kanan dan sayap kiri masjid.

Namun masih mengedepankan seni arsitektur bangunan masjid tradisi melayu atau masih memiliki ciri khas melayu.

Keindahan lainnya, terlihat dari sisi pintu masuk Masjid Al Mubaraq terdapat bacaan ayat suci Al Quran yang bermakna masjid yang didirikan berdasarkan keimanan dan ketakwaan.

Tidak hanya itu, terdapat pula kata Karimun atau kata Karim yang berarti mulia.

Kemudian, ketika berada di tengah bagian dalam masjid, terlihat empat tiang yang kokoh.

Tiang tersebut memiliki arti dengan menandakan empat sahabat di antaranya Abubakar, Umar, Usman, dan Ali.

Selain itu, mimbar untuk ceramah yang didesain ala Turki dan Eropa, kemudian menggambarkan ciri khas adat melayu seperti pucuk rebung. Hanya orang-orang terpilih atau alim ulama yang menaiki mimbar ini.

Desain sulaman mimbar tersebut juga sama seperti desain masjid di Pulau Penyengat yang menunjukan ciri khas melayu.

Hingga saat ini Masjid Al Mubaraq mampu menampung 200 jemaah.

Setiap shalat Jumat, masjid tertua di Karimun itu penuh dan membludak dengan ramainya jemaah. (omy/bs)