press enter to search

Minggu, 25/10/2020 21:25 WIB

Heboh Jalur Gowes Gadis Desa di Malang, Ternyata Oknum `Ngamen`

Redaksi | Senin, 14/09/2020 10:34 WIB
Heboh Jalur Gowes Gadis Desa di Malang, Ternyata Oknum `Ngamen` Tangkapan layar dari video jalur gowes gadis desa.


MALANG (Aksdi.id) - Publik Kota Malang dihebohkan dengan video viral bertajuk `Jalur Gowes Gadis Desa` yang disebutkan ada di sebuah lokasi sungai di daerah Kabupaten Malang. Video pemersatu bangsa berdurasi 17 detik ini tak pelak viral di lini masa twitter  

Dalam video pendek yang beredar, tampak sejumlah pesepeda mengabadikan momen dua gadis cantik memakai kemben di lokasi sungai. Dalam foto-foto yang juga beredar, dua gadis yang sama tampak melayani swafoto para pesepeda sembari berbasah-basah di lokasi sungai.

Usut punya usut, video tersebut ternyata benar datang dari Kabupaten Malang. Persisnya ada di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso di lokasi persawahan dan sungai yang jauh dari pemukiman desa. Lokasi tersebut digunakan untuk event acara Gowes (bersepeda).

Informasi yang dihimpun Camat Karangploso, Indra Gunawan bahwa itu bukanlah inovasi program pengembangan pariwisata desa maupun panitia gowes. Melainkan oknum warga yang `mengamen` alias memanfaatkan kesempatan saat keramaian acara.

"Jadi tidak ada rute jalur (Jalur Gowes Gadis Desa) itu di sana. Gak ada. Itu oknum ngamen," tegasnya dikonfirmasi, Minggu (13/9).

Indra menuturkan jika video tersebut terjadi di tengah event Gowes yang sempat diresmikannya bersama pejabat setempat pada Minggu (6/9/2020), pekan lalu. Namun, di tengah acara, ternyata ada oknum warga memanfaatkan keramaian event pesepeda itu dengan menawarkan jasa ini.

Secara kreatif, oknum ini membuat banner penunjuk arah dengan judul `Jalur Gowes Gadis Desa` di tengah rute gowes yang ditentukan panitia. Lengkap dengan foto gadis cantik memakai kemben. Banner seolah resmi kepanitiaan itu dipasang di rute gowes jalur ekstrem kategori 15 km.

"Jadi itu mereka kayak ngamen, menawarkan jasa foto-foto bersama dua wanita memakai kemben di sungai. Ya dengan bayar. Pasang banner sendiri di tengah rute gowes yang ditentukan. Tapi itu bukan panitia, mereka oknum yang menumpangi acara itu,`` terangnya.

Mengetahui hal ini, lanjut Indra, pihak panitia Gowes langsung membubarkan oknum event selundupan ini. Saat dibubarkan, mereka diketahui telah meraup keuntungan dari peserta event hingga mencapai Rp2 juta.  

"Infonya dari panitia, sekali foto itu ditarik uang bayar Rp 50 ribu. Saat diobrak (dibubarkan) kata panitia udah sampai 2 juta," ungkapnya.

Mengetahui hal ini, pihaknya pun menyayangkan atas ulah warga tak bertanggung jawab tersebut. Apalagi, misi event gowes ini tadinya juga mencakup galang dana untuk santunan anak yatim. Indra mewanti-wanti agar ulah nyeleneh ini tak lagi terjadi. "Semoga gak ada kejadian terulang kayak gini lagi di wilayah kami," pungkasnya. (ds/sumber Kumparan.com)