press enter to search

Sabtu, 28/11/2020 12:00 WIB

`Demi Kau dan Si Buah Hati`, Sopir Bus Handoyo Ini Enggak Libur-Libur

Dahlia | Senin, 12/10/2020 22:23 WIB
`Demi Kau dan Si Buah Hati`, Sopir Bus Handoyo Ini Enggak Libur-Libur Foto:aksi.id/BeritaTrans.com

Tiap Malam Engkau kutinggal pergi
Bukan bukannya aku sengaja
Demi kau dan si buah hati
Terpaksa aku harus begini

BEKASI (aksi.id) – Refrain lagu ‘Demi Kau dan Si Buah Hati,’ yang dilantunkan Pance Pondaag itu cocok dengan kisah Murlono 52 tahun sopir bus Po Handoyo.

Setiap hari dilaluinya lebih banyak waktu di jalan, mengantar penumpang di antara Bekasi, Jawa Barat, hingga Klaten, Jawa Tengah.

Ayah empat orang anak ini mengaku tidak pernah mengambil waktu libur untuk beristirahat. Hal itu dilakukannya karena kebutuhan ekonomi semakin banyak antaranya biaya masa depan anak sekolah, kuliah dan kebutuhan sehari-hari.

“Masih punya tanggungan, biaya untuk kuliah,  anak sekolah, apalagi karena corona ini pendapatan berkurang banyak,” celoteh pria yang akrab disapa Lana tersebut kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Senin (12/10/2020).

9122020213532
Semenjak jumlah penumpang semakin menurun, Lana tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk sekedar bersantai. Hal itu juga dibenarkan oleh sang kondektur bernama Erwin. “Dari lebaran kemaren sampe sekarang jalan terus yo si bro(Lana) ini,” diungkapkannya.

Warga Kampung Tidar Krajan, Magelang menceritakan pendapatannya selama pandemi Covid-19 berkurang lantaran jumlah penumpang sedikit daripada keadaan normal.

“Sejak covid ini penumpang ya turun, sama kayak PO PO lain, penumpangnya berkurang,” katanya.

Sudah semenjak libur lebaran dia tidak pernah absen sebagai di jalan. Hal tersebut lantaran harus membiayai biaya kuliah anak dan kehidupan keluarganya yang lain.

Saat ini dia bersama krunya tidak perpal alias tidak pernah antre dengan bus lain dan selalu jalan setiap harinya.

Selama ini dia hanya pulang ke rumah cuma istirahat sejenak kemudian akan diberangkatkan lagi, begitu seterusnya. Setibanya dia di Klaten dia akan pulang ke rumah beberapa saat saja dan akan berangkat lagi bila sudah tiba jadwalnya dihari yang sama tersebut.

Dia menceritakan masa libur sebenarnya dibebaskan untuk sopir tapi dia lebih memilih untuk tidak mengambilnya kecuali saat ada kebutuhan mendesak.

“Libur kalau punya batangan(bus pegangan) biasanya, ya semaunya sopir. Kalau enggak libur juga enggak apa-apa,” katanya.

Perjalanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) Handoyo yang dia kemudikannya dari Terminal Bekasi, akan berangkat pukul 17.00 dan akan tiba di Klaten pada pukul sekitar pukul 4.00 dini hari.

Pulang ke rumah akan dilakukan hanya sesaat cuma bertemu keluarga kemudian berangkat lagi.

“Kalo ini jalan nyampe pagi ya pulang. Sore berangkat lagi. Enggak kayak libur soalnya ini busnya jalan terus,” tegasnya.

Penghasilan Lana diungkapkannya hanya berdasarkan jumlah penumpang. Per tiket mereka hanya mendapatkan Rp7500 dibagi tiga.

Lana menjelaskan saat ini, dia memiliki dua orang anak yang sudah bekerja, si bungsu sebagai tenaga honorer di Magelang, nomor dua bekerja sebagai karyawan biasa. Sedangkan anak yang nomor tiga sedang menempuh kuliah semester tiga di UPN Yogyakarta dan terahir masih berusia tiga tahun.

Meski anaknya yang kuliah mendapatkan beasiswa, namun biaya kebutuhan diperantauan seperti indekos juga masih tanggungannya.

Pengalamannya menjadi sopir, Lana menceritakan sudah dari tahun 1990 menjadi sopir di PO tersebut. Dia sebelumnya pernah menjadi supir angkutan kota, truk ekspedisi lintas pulau, ke Sumatera dan Bali, hingga akhirnya setia dengan Handoyo.

Bus yang dikendarai kru Handoyo tersebut akan mengahabiskan dana untuk bahan bakar Rp1,8 juta, tol Rp650 ribu, uang makan dan lain-lain.

Saat ini tarif bus dipatok sesuai hari. Pada Hari Senin sampai Kamis Rp175 ribu dan jika hari Jumat sampai Minggu bertarif Rp200 ribu. (fahmi).

Keyword sopir bus