press enter to search

Selasa, 20/10/2020 07:55 WIB

Jacinda Ardern dan Partai Buruh Menang Pemilu Selandia Baru

Redaksi | Minggu, 18/10/2020 01:28 WIB
Jacinda Ardern dan Partai Buruh Menang Pemilu Selandia Baru Jacinda Ardern. Foto: Instagram Jacinda Ardern.

AUCKLAND (Aksi.id) - Partai Buruh dan petahana Jacinda Ardern unggul dalam pemilihan umum Selandia Baru yang digelar pada , Sabtu (17/10).

Menurut laporan stasiun televisi TVNZ, dari hasil penghitungan suara yang mencapai 80 persen, Partai Buruh meraup dukungan 48.9 persen. Dengan hasil itu, mereka mendapatkan 64 kursi di parlemen dan membentuk pemerintahan tanpa harus berkoalisi.

Sedangkan pesaing terdekat mereka, Partai Nasional, meraih 27 persen suara dan mendapatkan 35 kursi di parlemen.

Posisi ketiga dan keempat masing-masing diduduki oleh Partai ACT dengan 8.1 persen suara, dan Partai Hijau dengan 7.5 persen suara. Mereka masing-masing mendapat jatah 10 kursi di parlemen.

Hasil ini sesuai dengan perkiraan banyak pihak jauh-jauh hari. Sebab Ardern dan Partai Buruh terus bertengger di posisi tertinggi dalam setiap jajak pendapat.

Menanggapi hal ini, Ketua Partai Nasional, Judith Collins, menyampaikan ucapan terima kasih kepada para politikus Partai Nasional dan pendukungnya. Dia menyatakan memang kampanye pemilu kali ini tidak mudah karena harus bersaing dengan Ardern dan Partai Buruh yang pamornya sedang meroket, ditambah segala pembatasan akibat pandemi virus corona.

"Terima kasih sudah memilih kami. Kami akan bekerja keras selama tiga tahun ke depan untuk membayar kepercayaan yang telah diberikan oleh mereka yang memilik Partai Nasional," kata Collins saat menyampaikan pidato di markas besar Partai Nasional.

"Kami akan mengambil waktu untuk melakukan evaluasi dan kami akan berubah. Partai Nasional akan bangkit dari kekalahan ini supaya lebih kuat, disiplin dan terstruktur," ujar Collins.

Collins juga berjanji akan menjadi oposisi yang kuat di hadapan pemerintahan. Apalagi saat ini negara itu juga masuk ke dalam resesi sebagai imbas pandemi.

"Saya berjanji Partai Nasional akan menjadi oposisi yang tangguh. Kita akan meminta pemerintah bertanggung jawab atas segala janji yang gagal ditepati, dan memaksa mereka untuk melakukan yang terbaik untuk penduduk Selandia Baru," ucap Collins.

Secara terpisah, Ardern juga menyampaikan terima kasih kepada para penduduk yang memberikan suara kepada dia dan Partai Buruh. Dia juga memuji kerja keras seluruh anggota partai atas keberhasilan ini.

"Hasil malam ini sangat kuat, dan sudah sangat jelas bahwa Partai Buruh akan kembali memimpin pemerintahan dalam tiga tahun ke depan," ujar Ardern.

Ardern menyatakan akan berupaya memenuhi janji menciptakan lapangan pekerjaan, menghadapi perubahan iklim, mengentaskan kemiskinan, membangun rumah subsidi terjangkau bagi penduduk, serta memberikan masa depan yang cerah dan harapan bagi rakyat Negeri Kiwi.

"Kita diberi mandat untuk mempercepat langkah dan kita akan memulainya besok," kata Ardern.

Pemilu Selandia Baru pada tahun ini diikuti oleh 57 persen dari 3,4 juta pemilih.

2 Perempuan Kandidat

Pemilu perdana mentri diikuti dua kandidat perdana menteri yang diunggulkan, yaitu petahana Jacinda Ardern dan Judith Collins.

Kedua politikus itu memiliki latar belakang berbeda. Ardern yang berusia 40 tahun adalah Ketua Partai Buruh yang beraliran liberal.

Sedangkan Collins yang berusia 63 tahun adalah politikus senior yang memimpin Partai Nasional beraliran konservatif poros tengah-kanan.

Seperti dilansir CNN, Jumat (16/10), Ardern sampai saat ini memang masih unggul dalam hasil survei. Dia saat ini menjalin koalisi dengan Partai Hijau yang beraliran kiri.

Pamor politik Ardern meroket setelah dia dinilai sigap menetapkan kebijakan pencegahan untuk menangkal penyebaran virus corona. Dia menerapkan penguncian wilayah (lockdown) secara nasional.

Kebijakan itu dinilai efektif karena berhasil menekan penyebaran kasus virus corona, dengan 25 pasien meninggal.

Akibat hal itu juga, pemerintah setempat memutuskan menggelar pemungutan suara secara bertahap, yang sudah diikuti oleh sekitar 1.6 juta pemilih termasuk Ardern dan Collins.

Dalam kampanye, Ardern menyatakan jika partainya mendapat suara mayoritas di parlemen, dia menjanjikan akan menjaga pemerintahan tetap kuat di masa pandemi, dan berusaha menangani resesi secepatnya.

Dia juga mencitrakan dirinya untuk tidak melakukan politik kotor dan manusia yang penyayang. Pamornya semakin melejit ketika dia menampilkan sikap mengayomi saat insiden teror penembakan terhadap jemaah di dua masjid di Christchurch, yang merenggut nyawa 51 orang.

 Judith Collins dan Jacinda Ardern. (AFP/MARTY MELVILLE)

Sementara itu, citra Collins berbanding terbalik dengan Ardern. Dia mencitrakan diri sebagai politikus Nasrani yang taat dan tegas. Akan tetapi, gerak-geriknya juga membuat dia terbelit skandal.

Dia mundur dari posisi Menteri Hukum pada 2014 akibat dituduh menjelek-jelekkan bawahannya yang kemudian menjadi direktur Badan Kejahatan Serius (SFO). Namun, penyelidikan kasus itu ditutup oleh pemerintah.

Collins juga dituduh memiliki konflik kepentingan setelah mengunjungi kantor pusat perusahaan peternakan Oravida di Shanghai, China, menggunakan anggaran dinas. Sebab, suami Collins adalah salah satu direktur di perusahaan itu.

Meski begitu, Collins dikenal sebagai politikus yang tidak mau memberikan toleransi terhadap kasus kejahatan hingga balapan liar di jalan raya. Karena sikapnya itu membuat dia dijuluki "Si Penghancur".

Karena sikapnya, Collins diberi jabatan yang tidak jauh-jauh dari urusan hukum, yakni sebagai Menteri Kepolisian, Menteri Lapas dan Menteri Hukum.

(awe).