press enter to search

Sabtu, 28/11/2020 06:45 WIB

Kunjungan Pertama ke Israel bagi Pejabat Tinggi Uni Emirat Arab, PM Netanyahu: Hari Ini Kita Membuat Sejarah, Palestina Sebut Lawatan Memalukan

Redaksi | Rabu, 21/10/2020 13:51 WIB
Kunjungan Pertama ke Israel bagi Pejabat Tinggi Uni Emirat Arab, PM Netanyahu: Hari Ini Kita Membuat Sejarah, Palestina Sebut Lawatan Memalukan Bendera Israel dan Uni Emirat Arab.

TEL AVIV (Aksi.id) - Delegasi sejumlah pejabat tinggi Uni Emirat Arab (UEA) untuk pertama kalinya mengunjungi Israel hari Selasa (20/10) menyusul kesepakatan kedua negara untuk membangun hubungan diplomatik bulan lalu. Pejabat Palestina menggambarkannya sebagai "lawatan yang memalukan".

Para pejabat UEA mendarat di bandar udara Ben Gurion dengan menggunakan pesawat Etihad Airways, kata wartawan BBC di Yerusalem, Yolande Knell.

Delegasi ini disambut langsung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mengatakan, "Hari ini kita membuat sejarah ... [langkah ini] akan bisa bertahan hingga beberapa generasi mendatang."

Israel dan Uni Emirat Arab buka hubungan diplomatik, kedua negara resmikan sambungan telepon langsung
Kedua negara sudah menyepakati perjanjian dagang sejak mengumumkan normalisasi hubungan pada Agustus.

Kunjungan pertama para pejabat UEA ini hanya berlangsung lima jam dan kedua delegasi hanya berada di kompleks bandara Ben Gurion - yang terletak di tenggara Tel Aviv - karena Israel menerapkan karantina wilayah untuk menekan wabah virus corona.

Dalam lawatan ini, akan ditandatangani sejumlah perjanjian, antara lain tentang promosi bisnis dan penerbangan komersial antara kedua negara.

Disepakati pula bahwa warga Israel dan UEA akan bisa saling berkunjung tanpa menggunakan visa.

Palestina mengecam kunjungan para pejabat UEA ke Israel.

Wasel Abu Youssef, anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, menggambarkan kunjungan para pejabat UEA ke Israel sebagai "memalukan".

`Memperkuat posisi Israel`
Ia mengatakan kunjungan ini dilakukan ketika Israel memperluas permukiman bagi warga Yahudi di kawasan pendudukan Tepi barat.

"Perjanjian bilateral yang diumumkan hari ini dan kedatangan delegasi [UEA], semuanya akan memperkuat tindakan [Israel] dalam melakukan agresi dan kejahatan terhadap rakyat Palestina, hanya akan menambah kesombongan [Israel]," kata Youssef kepada kantor berita Reuters.

Di Gaza, kawasan yang dikuasai kelompok Hamas, juru bicaranya, Hazem Qassem, kepada Reuters mengatakan lawatan UEA ini hanya akan mendorong Israel meneruskan aneksasi gradual tanah-tanah Palestina di Tepi Barat.

Dalam video yang diunggah utusan AS Ari Berkowitz di Twitter, salah seorang pilot Etihad Airways mengatakan, "Ini adalah momen yang bersejarah bagi UEA dan Israel dan kami ingin melihat adanya perdamaian di kawasan."

UEA dan Bahrain bulan September menjadi dua negara Arab pertama dalam 25 tahun terakhir yang resmi membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Beberapa pihak memperkirakan bahwa kesepakatan yang dimediasi oleh Presiden Donald Trump antara lain dilatari oleh "kekhawatiran yang ditimbulkan oleh Iran".

Namun perjanjian antara Israel, UEA dan Bahrain ini membuat marah Palestina.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin dan utusan AS untuk kawasan Timur Tengah Ari Berkowitz ikut dalam rombongan para pejabat UAE yang terbang dari Abu Dhabi.

Pada hari Minggu (18/10) Mnuchin dan Berkowitz ikut mendampingi delegasi Israel saat menandatangani perjanjian resmi normalisasi hubungan dengan Bahrain.

Amerika Serikat berperan penting dalam mendorong UEA dan Israel menormalkan hubungan.

Selama beberapa dekade, UAE menolak berhubungan dengan Israel, sebagai bagian dari upaya negara-negara Arab untuk menekan Israel agar mengizinkan pendirian negara Palestina. (ds/sumber BBC News Indonesia)