press enter to search

Selasa, 19/01/2021 02:03 WIB

Bus Family Raya Beberapa Kali Pecah Kaca Depan Gegara Dilempar Batu di Lampung Tengah Malam

Dahlia | Minggu, 08/11/2020 16:39 WIB
Bus Family Raya Beberapa Kali Pecah Kaca Depan Gegara Dilempar Batu di Lampung Tengah Malam Foto:aksi.id/BeritaTrans.com

JAKARTA (aksi.id) – Pengemudi bus antarkota antarprovinsi (AKAP) lintas Sumatera masih kerap diteror pecah kaca saat melewati kawasan tertentu pada malam hari oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Adalan Donny 52 tahun sopir PO Family Raya jurusan Ciawi, Bogor-Padang, Sumatera Barat,menceritakan busnya dilempari batu hingga kaca depan busnya pecah.

“Itu pecahnya dekat Banja Masin (Desa di Kabupaten Lampung)… Sengaja gitu dilempar. Jam tiga pagi lah kira-kira,” kata Donny memperlihatkan kaca bus bagian depan yang sudah retak sebagia kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id di Terminal Bekasi, Sabtu (7/11/2020).

Kejadian tersebut dialaminya beberapa waktu lalu. Dari penuturannya daerah yang sering terjadi pelemparan kaca bus yaitu Penengahan, Lampung Selatan hingga Lampung Utara.

“Dia (pelempar) enggak begal, dia semacam iseng, sudah melempar lari dia,” cerita warga Kelurahan Candika, Muara Bungo, Jambi tersebut.

Donny mengungkapkan, saat kejadian laju bus langsung dia hentikan dan kru bus mengejar si pelempar, namun tidak berhasil ditemukan.

“Sempat berhenti, ada sekitar 20 menit, diuber masuk gang. Masuk ke rumah-rumah sudah hilang,” ujarnya.

Beruntung kejadian tersebut diungkapkannya masih tidak terlalu parah. Kaca mengalami retak dan bagian sopir masih bisa melihat jalan dengan jelas.

Selain merugikan, ayah empat orang anak ini juga menghawatirkan bahwa kejadian tersebut berbahaya terutama bagi pengemudi, yang sewaktu-waktu bisa langsung kehilangan konsentrasi.

“Tapi kalau mobil pas di kaca sopir bisa mengganggu pemandangan. Bisa terbalik, kalau terbalik, di situlah mereka bisa berbuat tah apa-apa,” tuturnya.

Kejadian aksi pelemparan kaca oleh aksi orang-orang yang tidak bertanggung jawab juga dialami beberapa sopir sesama PO Family Raya bahkan ada yang mengalami hal serius.

“Kita banyak yang kena. Ada yang dibawa ke rumah sakit lah, ada yang pecah gigi. Tapi Alhadulillah saya belum pernah kenak. Itu juga kita hindari ya,” ungkap Donny.

Hal tersebut juga membahayakan buat orang-orang di dalam bus dan bisa berkibat juga kepada pengguna jalan lain.

Donny berharap adanya penertiban dan keamanan di kawasan-kawasan rawan tersebut.

“Kacanya Rp3,5 juta harganya, belum lagi upah kerjanya bisa 4 jutaan. Maunya harus di sana itu ditertibkanlah, diawasi,” pinta Donny.

Saat ini, kondisi penumpang bus yang dia kendarai juga tengah mengalami keadaan sepi, lantaran masih di masa pandemi Covid-19.

Saat ditemui BeritaTrans.com dan Aksi.id di Terminal Bekasi, bus yang dia kemudikan hanya memberangkatkan lima orang penumpang.

“Kehidupan sopir sekarang sedih, sepi sewanya, bosnya juga sedih, ini enggak ada yang penuh,” katanya.

Donny mengungkapkan untuk menjalankan bus dalam satu kali rit atau satu kali pulang pergi (PP), dia harus menghabiskan waktu selama 10 hari.

“Perpal (ngetem) lima hari dari sana (Padang), lima hari di sini (Jabodetabek). Kalau dulu enggak ada perpal,” ungkapnya.

Sebelumnya dia bersama kru yang terdiri dari sopir dua dan kernet sudah empat malam di Ciawi, Bogor, kemudian satu malam menginap di Terminal Bekasi, hingga saat berangkat dia juga harus menjemput penumpang di terminal Pulo Gebang hingga Terminal Poris, agar bus tercukupi penumpang dan bisa memenuhi uang operasional.

Pendapatannya juga diungkapkannya sangat berkurang lantaran lebih lama ngetem dan penumpang juga sedikit.

“Kita sistem (gaji) persenan. Kalau mobil penuh, besar juga pendapatan untuk kita. Kalau mobil enggak penuh kasian juga perusahaan, yang biaya suku cadang, oli ban dan lain-lain,” katanya.

Dia juga sadar, bahwa pengeluaran perusahaan dan pemasukan tidak seimbang karena ada biaya yang tidak terduga untuk operasional busnya.

“Kita doain penuh lah. Sopir dapat uang, perushaan dapat uang, kan itu. Kalo sepi begini kurang lah pendapatan. Tapi kita syukurin lah, Alhamulillah berkah,” katanya.

Untuk diketahui, tarif bus Family Raya tujuan Bekasi-Padang adalah Rp425 ribu. Donny juga harus mempersiapkan dana operasional satu kali PP yang terdiri dari Rp7 juta lebih untuk bahan bakar, Rp2,6 juta untuk penyeberangan menggunkan kapal dan biaya lain seperti tol, parkir terminal dan uang makan dia bersama dua orang kru lain. (fahmi).

Keyword sopir bus