press enter to search

Senin, 25/01/2021 10:40 WIB

Erick Thohir Ungkap Alasan Indonesia Tak Gunakan Vaksin Pfizer

Dahlia | Selasa, 24/11/2020 19:34 WIB
Erick Thohir Ungkap Alasan Indonesia Tak Gunakan Vaksin Pfizer Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir

JAKARTA, iNews.id - Berbagai macam perusahaan kesehatan kini sedang gencar melakukan uji klinis vaksin covid-19. Salah satu yang sedang hangat diperbincangkan, yaitu vaksin Pfizer. 

Namun sayangnya, Indonesia tidak menggunakan vaksin covid-19 yang diproduksi oleh perusahaan farmasi asal negeri Paman Sam tersebut. Pasalnya, pemerintah Indonesia sudah lebih dahulu bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang juga sedang melakukan tes pada vaksin Covid-19. 

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, pengadaan vaksin Covid-19 dari berbagai perusahaan dunia dan merek tidak akan sembarangan. Terdapat sejumlah kriteria yang melandasi pemerintah untuk membeli vaksin.

Kriteria-kriteria tersebut berada dalam kewenangan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dalam memilih perusahaan juga, Kemenkes akan melihat data yang ada di organisasi kesehatan dunia (WHO). 

"Kemenkes menentukan ini tentu berdasarkan data yang ada di list WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan sudah melalui uji klinis I, II yang sudah full report, jadi datanya ada," ujarnya dalam diskusi virtual, Selasa (24/11/2020). 

Mantan pemilik klub sepakbola Inter Milan itu menambahkan, selain kriteria tersebut, ada beberapa hal lain yang membuat pemerintah mengambil vaksin dari perusahan tersebut. Misalnya saja, vaksin yang dibeli pemerintah merupakan vaksin yang memiliki kapasitas distribusi mudah.

"Vaksin yang akan dibeli pemerintah juga merupakan vaksin yang cold chainnya atau distribusinya yang friendly dengan distribusi kita, di mana 2-8 derajat celcius," katanya.

Menurut Erick, kapasitas distribusi yang dimiliki Indonesia saat ini di kisaran derajat itu. Dengan begitu, kemampuan vaksin untuk bertahan dalam suhu yang cocok dengan kapasitas distribusi Indonesia menjadi penting.

"Karena kalau kita harus membongkar sistem distribusi kita, misalnya dijadikan minus 20, ini nanti akan menghambat distribusi kita yang sudah kita lakukan. Kalau persiapan ini tiga tahun lagi beda," kata Erick.

Hal itulah yang menjadi dasar pemerintah memilih vaksin buatan Sinovac, Cansino, Sinopharm ataupun Astrazeneca. Sementara itu, untuk vaksin buatan Pfizer maupun Moderna belum karena kebutuhan kapasitas produksi.

"Kenapa Pfizer dan Moderna belum bisa? Karena memang cold chainnya minus 75, yang satu minus 20. Untuk negara seperti Amerika pun, mereka akan ada transisi. Jadi ini, jangan nanti terpikir, bahwa pemerintah beli merk ini ini berbisnis. Tidak," tuturnya.

(lia/sumber:inews.id)