press enter to search

Sabtu, 06/03/2021 11:57 WIB

Sopir Bus Sari Indah Nginap di Terminal Pulo Gebang: Di Sini Kerajaan Nyamuk

Dahlia | Rabu, 20/01/2021 23:52 WIB
Sopir Bus Sari Indah Nginap di Terminal Pulo Gebang: Di Sini Kerajaan Nyamuk

JAKARTA (aksi.id) - Melakukan perjalanan jauh dan mengunjungi berbagai tempat serta juga bertemu dengan orang-orang baru, menurut sebagian pandangan orang adalah hal yang paling menyenangkan.

Namun, tidak untuk profesi satu ini, yang harus meninggalkan rumah demi melayani orang-orang berpergian atau sekedar melakukan sekali perjalanan.

Adalah Gufron 40 Tahun merupakan pengemudi bus antarkota antarpropinsi (AKAP) PO Sari Indah jurusan Surabaya-Jakarta.

Berpergian dari satu tempat ke tempat lain, tidak untuk menyenangkan hati. Namun, ada kisah miris selama diperjalanan, termasuk menginap di bus berhari-hari saat di terminal.

Saat ditemui dia sedang bersantai menunggu keberangkatan yang direncanakan pada malam hari itu juga. Warga Kudus ini bersama supir dua, Bidianto 40 tahun warga Lasem dan kenek, Teguh 35 tahun warga Lasem.

"Kalau nginap di sini paling banyak nyamuknya, ampunlah. Beda sama terminal-terminal lain. Rajanya ini," kata Gufron di Terminal Pulo Gebang, Rabu (20/1/2021).

Untuk membasmi nyamuk biasanya para kru akan tidur dengan keadaan bus menyala untuk membiarkan AC tetap terjaga. Namun, saat sekarang, mereka harus menghemat bahan bakar. Para kru bus Sari Indah memilih akan menyalakan obat nyamuk bakar.

"Udah kayak kebakaran ni kalau malam, banyak asap," katanya.

Membakar obat nyamuk disebutkannya tidak cukup satu, tapi ada di setiap sudut bus yang terdekat posisi tidur ke tiga kru bus tersebut.

Bukan mereka tidak pernah mencoba obat nyamuk oles. Namun diungkapkan Gufron, merasa akan alergi terhadap kulitnya. Begitu juga dengan kru yang lain.

"Kalau pakek autan ya enggak enak di badan, alergi," celoteh Gufron.

Keadaan sekarang yang sepi penumpang, mereka harus menginap atau perpal lama di terminal tujuan baik yang ada di Jakarta ataupun di Surabaya.

Menginap di terminal Pulo Gebang sudah dilakukannya selama tiga malam. Mereka hanya melakukan aktifitas di seputaran bus mereka yang parkir untuk menjaga unitnya.

"Ya kita sampai malam ya di sini aja terus, palingan nanti ada kawan ya ngobrol," kata Gufron.

Untuk mengganjal perut diungkapkannya mereka kerap berhutang dengan pemilik warung makan langganan, yang ada di area terminal tersebut.

"Kita boro-boro bawa pulang uang, untuk makan di sini aja kita ngutang dulu di warung itu mas," kata Gufron.

Gufron menambahkan, saat ini penumpang semakin sepi, uang operasional bus, yang awalnya dimodali oleh pengurus di masing-masing terminal diungkapkannya hanya untuk menutupi uang solar dan setoran.

"Kita ni dari sana ya mas dikasi Rp2 juta, nanti di sini dikasi juga sama pengurus sini Rp2 juta. Kalau gaji kita dapatnya dari penumpang di jalanlah, itupun kalau ada," katanya.

Dari modal tersebut, dijelaskan Gufron akan digunakan untuk solar Rp3 juta dan uang setoran Rp1 juta. Itu juga belum termasuk biaya tol yang sekarang naik dan untuk gaji. Meraka harus berhemat semaksimal mungkin.

"Tol Rp500 ribu PP(pulang-pergi), dulu padahal Rp400 ribu," sebut Gufron.

Artinya kru harus mencari kelebihan tersebut dari jumlah target penumpang atau mengutip penumpang di jalan atau, yang tidak termasuk jumlah dari agen atau pengurus terminal.

Untuk harga tiket bus kelas non-ekonomi Jakarta-Surabaya tersebut yang tertera adalah Rp320 ribu. Namun, Gufron menyebut jika mengangkut penumpang di pinggir jalan, maka akan lebih murah lagi.

"Itu harga agen. Harga tiket bisa dinego(Kalau di jalan). Nanti itulah palingan gaji kita dari yang sikit-sikit itu," kata Gufron.

Modal jalan tersebut disebutkannya tidak akan dikasih sebelum mereka mendapatkan penumpang yang akan diberangkatkan. Itulah mereka kerap berhutang.

Sebelum mengendarai bus bersasis Hino keluaran tahun 2005 tersebut dia juga pernah menjadi menjadi sopir truk untuk pengiriman ekspedisi ke berbagai pulau termasuk Sumatera.

Untuk diketahui, Terminal Pulo Gebang menyediakan ruang istirahat untuk para kru bus. Namun, letaknya cukup jauh dari parkiran bus. Kru bus khawatir terhadap bus yang ditinggalkan, mereka lebih memilih tinggal di dalam bus untuk menjaga bus dari hal-hal yang tidak diinginkan.(fahmi)