press enter to search

Selasa, 20/04/2021 16:37 WIB

Salat Sambil Gendong Anak yang Pakai Popok

Redaksi | Senin, 29/03/2021 09:28 WIB
Salat Sambil Gendong Anak yang Pakai Popok Ilustrasi.

JAKARTA (Aksi.id) - Orang yang salat dalam kondisi menggendong anak yang mamakai popok, di mana di dalam popok tersebut terdapat najis (air kencing atau tinja), maka salatnya tidak sah dan harus diulang dari awal.

Hal ini berlaku secara mutlak, baik pengetahuan terhadap keberadaan najis itu sebelum salat lalu lupa, atau di tengah salat, atau sesudah salat selesai. Pendapat ini merupakan pendapat baru Imam Syafi’i dan merupakan pendapat yang muktamad (resmi) dalam mazhab Syafi’i.

Imam An-Nawawi (w.676 H) rahimahullah berkata :

أَمَّا إذَا حَمَلَ قَارُورَةً مُصَمَّمَةَ الرَّأْسِ بِرَصَاصٍ أَوْ نَحْوِهِ وَفِيهَا نَجَاسَةٌ فَلَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ عَلَى الصَّحِيحِ

“Adapun apabila seorang membawa botol yang kepala (botolnya) disumbat dengan peluru atau yang semisalnya (yang tidak rembes) dan di dalamnya terdapat najis, maka salatnya tidak sah menurut pendapat yang sahih (benar).” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab : 3/150).

Di halaman yang lain, beliau juga menyatakan :

فِي مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ فِيمَنْ صَلَّى بِنَجَاسَةٍ نَسِيَهَا أَوْ جَهِلَهَا: ذَكَرْنَا أَنَّ الْأَصَحَّ فِي مَذْهَبِنَا وُجُوبُ الْإِعَادَةِ وَبِهِ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ وَأَحْمَدُ

“Pendapat-pendapat para ulama tentang seorang yang shalat dalam kondisi lupa atau tidak tahu kalau membawa najis. Telah kami sebutkan, sesungguhnya yang lebih sahih (lebih benar) di dalam mazhab kami (mazhab Syafi’i) diwajibkan untuk mengulanginya. Imam Abu Qilabah dan Ahmad berpendapat dengannya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab : 3/153).

Dalam kitab Minhaj Ath-Thalibin beliau rahmahullah menyatakan :

وَلَوْ صَلَّى بِنَجَسٍ لَمْ يَعْلَمْهُ وَجَبَ القَضَاءُ فِيْ الْجَدِيْدِ وَإِنْ عَلِمَ ثُمَّ نَسِيَ وَجَبَ القَضَاءُ عَلَى الْمَذْهَبِ

“Seandainya seorang salat dengan membawa najis yang tidak dia ketahui, maka wajib mengqadha (menggantinya) di dalam pendapat yang baru (imam Syafi’i). Dan jika (sebelumnya) tahu lalu lupa, wajib mengadhanya juga menurut mazhab (Syafi’i).” (Minhaj Ath-Athalibin, hlm. 32).

Mereka beralasan, bahwa suci dari najis itu termasuk thaharah (bersuci) yang sifatnya wajib, maka tidak bisa gugur dengan ketidaktahuan dan lupa. Hal ini sebagaimana seorang yang telah selesai dari salat, tapi lupa belum wudhu, maka wajib mengulang salatnya.

Selain itu, membersihkan diri dari najis termasuk syarat sahnya ibadah salat. Sedangkan khithab syarat (percakapan/redaksi syarat) termasuk khithab wadhi (percakapan yang sifatnya peletakkan), tidak terpengaruh adanya ketidaktahuan sebagaimana bersuci dari hadats.(simak : Nihayah Muhtaj : 2/34, Tuhfah Al-Muhtaj : 2/136).

Ada sebagian ulama Syafi’iyyah yang berpendapat, apabila seorang mengetahui bahwa dia membawa najis setelah selesai salat, maka salatnya sah dan tidak perlu diulang. (ds/sumber Islampos.com)

Artikel Terkait :

-