press enter to search

Kamis, 24/06/2021 03:52 WIB

Menengok Kerukunan Warga Muslim-Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cireundeu Cimahi

Redaksi | Rabu, 14/04/2021 06:11 WIB
Menengok Kerukunan Warga Muslim-Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cireundeu Cimahi Potret toleransi warga muslim dan Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cirendeu (Foto: Whisnu Pradana)
Cimahi (aksi.id) - Potret toleransi antara umat beragama dengan masyarakat penganut kepercayaan terproyeksi dari kehidupan sosial di lingkungan Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Di kampung adat satu-satunya di Kota Cimahi kehidupan sosial dan agama umat muslim bisa berjalan beriringan dengan masyarakat yang menganut paham kepercayaan Sunda Wiwitan. Tanpa ada potensi gesekan sama sekali.

Pada momen Ramadhan kali ini misalnya dari 400 kepala keluarga (KK) yang tersebar di wilayah RW 10, ada 60 KL atau sekitar 240 jiwa masyarakat penganut Sunda Wiwitan, saling menghormati saudara yang tengah berpuasa, pun sebaliknya yang berpuasa pun menghargai yang tak berpuasa.

Abah Widi, Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu menuturkan apa yang terjadi pada dirinya sebagai penganut Sunda Wiwitan dan warga muslim lainnya merupakan definisi dari `Silih Ajenan` atau saling menghormati.

 

Warga Muslim dan Sunda Wiwitan hidup rukun berdampinganWarga Muslim dan Sunda Wiwitan hidup rukun berdampingan Foto: Whisnu Pradana

 

"Harus menjaga toleransi umat beragama atau bahasanya itu silih ajenan. Tidak boleh membedakan kepercayaan. Dalam kehidupan itu ada welas asih, undak usuk, silih asah silih asih," ungkap Abah Widi kepada detikcom, Selasa (13/4/2021).

Dalam menjalankan ritual peribadatan, baik warga yang beragama muslim maupun mereka penganut Sunda Wiwitan sama sekali tak pernah saling mengganggu maupun terganggu.

"Dalam keagamaan dan kegiatan apapun ya kita harus saling menjaga. Misalnya abah kalau mau melaksanakan kegiatan upacara adat itu tentu izin dulu ke warga muslim. Sebaliknya warga muslim juga gitu, kalau ada kegiatan keagamaan pasti izin dulu ke penganut Sunda Wiwitan," jelasnya.

Tak seperti warga di kampung adat lainnya yang terkonsentrasi di satu wilayah, warga Kampung Adat Cireundeu berada di hampir semua wilayah RW 10. Mereka yang muslim dan penganut Sunda Wiwitan berdampingan secara harfiah.

"Tidak seperti saudara abah di Baduy, kalau mereka kan ada Baduy luar dan Baduy dalam. Nah kalau di sini (Cireundeu) itu berbaur semuanya. Jadi yang Sunda Wiwitannya tersebar, tapi memang mayoritas itu di RT 02 dan 03," kata Abah Widi.

Apa yang terjadi di Kampung Adat Cireundeu besar harapan bisa juga terlaksana dengan baik di semua wilayah dan lini kehidupan sosial masyarakat tanpa terkecuali.

"Kehidupan sosial itu bukan cuma antara manusia dengan manusia, tapi dengan alam. Kita umat beragama atau yang kepercayaan sama-sama harus meyakini al itu sebagai asih ti Gusti atau pemberian dari Tuhan," tandasnya.  ,(ny/Sumber: detik.com)