press enter to search

Sabtu, 25/05/2024 19:01 WIB

Kepala BKKBN: Program CME Bantu Turunkan Angka Stunting di Demak

Redaksi | Jum'at, 10/03/2023 13:54 WIB
Kepala BKKBN: Program CME Bantu Turunkan Angka Stunting di Demak Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo (tengah) saat memberikan arahannya dalam kunjungan kerja di Kota Semarang, Jawa Tengah. (FOTO ANTARA/HO-BKKBN)

Jakarta (Aksi.id) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyatakan bahwa program inovasi Cengkraman Mata Elang (CME) mampu membantu menurunkan angka stunting secara signifikan di Demak, Jawa Tengah.

“Melalui inovasi Cengkraman Mata Elang (CME), angka prevalensi stunting Demak yang berdasar hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2021 berada di angka 25,5 persen, pada 2022 turun jadi 16,2 persen,” katanya dalam taklimat media di Jakarta, Jumat 10/3/2023).

Ia menjelaskan CME merupakan sebuah program penyesuaian dengan program percepatan penurunan stunting milik Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yakni Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng.

Melalui inovasi CME, prevalensi stunting di Kabupaten Demak kini berada pada posisi terendah keempat, setelah pada 2021 lalu menjadi yang tertinggi keempat di Jateng.

“Hebatnya, selain bertujuan untuk menurunkan stunting, inovasi ini juga bertujuan untuk mengurangi jumlah kematian ibu dan anak,” katanya.

Inovasi yang mendapatkan penghargaan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2021 kategori Dimensi Smart Society itu, juga menekankan pentingnya sinergitas pemerintah desa, masyarakat, serta tenaga kesehatan melalui upaya pemberdayaan masyarakat yang terstruktur dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di tiap desa.

Meski demikian, Hasto mengingatkan bahwa kendala utama dalam penanganan stunting adalah terkait habitual atau kebiasaan dan perilaku masyarakat. Sehingga setiap pihak tidak boleh mengabaikan stunting yang memberikan dampak buruk dalam waktu yang panjang bagi anak.

“Contohnya saja, perilaku atau kebiasaan konsumsi masyarakat yang menjadikan karbohidrat sebagai menu utama dalam makanan harian tanpa memperhatikan zat gizi lainnya, padahal utamanya harus protein hewani,” ujarnya.

Bupati Demak Eisti`anah menyatakan pihaknya akan serius menangani stunting dengan menentukan lokus penggarapan di enam kecamatan dan 22 desa yang banyak terdapat kasus stunting. Sebab jika diamati secara geografis, lokus stunting berada di daerah yang kerap terdampak banjir dan sanitasi.

Menurutnya, intervensi spesifik dalam penanganan stunting tidak boleh hanya fokus kepada pemberian asupan gizi saja melainkan juga harus memperhatikan berbagai sisi, salah satunya sanitasi lingkungan.

“Kita tahu Demak itu terkenal dengan sungai yang mengalir di sepanjang pantura sebagai tempat buang air besar, tapi sekarang dengan usaha yang begitu lama akhirnya tahun 2022 kemarin Demak dinyatakan ODF (Open Defecation Free),” ujar Eisti`anah. (Sof/Sumber:Antaranews.com)