press enter to search

Minggu, 16/12/2018 22:18 WIB

Jusman: Jeratan Birokrasi Perlambat dan Persulit Tumbuhnya Daya Kreativitas Perusahaan

Helmi | Rabu, 05/12/2018 10:45 WIB
Jusman: Jeratan Birokrasi Perlambat dan Persulit Tumbuhnya Daya Kreativitas Perusahaan Jusman Syafii Djamal

JAKARTA (Aksi.id) - Perusahaan besar biasanya memiliki birokrasi gemuk. Jenjang pengambilan keputusannya panjang. Untuk mengganti ban truk yang rusak misalnya diperlukan 31 meja approval.  Kondisi tersebut kini mulai berubah, sejalan dengan dinamika dan kemajuan iptek terutama dibiang teknologi informasi.

“Tahun 1983 di Amerika untuk mengisi posisi birokrasi dan administrasi terjadi penambahan pegawai 100%, sementara posisi engineering dan production hanya 44%,” kata mantan Menhuh Jusman Sjafei Djamala, dalam akun pribadinya @jusman sjafei djamal, kemarin.

Menurutnya, kecendrungan birokrasi jadi gurita dengan banyak tentakel yang menyebabkan Charles Munger Vice Chairman, Berkshire Heathaway menyebut kemungkinan jeratan birokrasi yang memperlambat dan mempersulit tumbuhnya daya kreativitas perusahaan itu bisa jadi cancer yang membuat perusahaan lumpuh tak berdaya menghadapi persaingan kompetitor.

Birokrasi,  kata James Dimon CEO JP Morgan Chase jika tidak dikelola dengan baik, dapat jadi penyakit yang meyerap vitalitas perusahaan untuk mengambil resiko mengejar oportunitas yang terbuka.

“Birokrasi dapat membunuh spirit entrepreneurship dalam perusahaan. It is a tax on human achevement,” jelas Jusman lagi.

Jadi Legenda

Jack Welch Chairman General Electric jadi legenda ketika  ia berhasil memotong Mata rantai proses pengambilan keputusan yang berbelit belit di GE. Ia mengenalkan istilah “delayering” dan “flat organization”. Mengurangi birokrat dan administrator di GE dan mengembangkan apa yang disebutnya strategic business units untuk beradaptasi dengan perubahan landskap bisnis.

Haier industri manufaktur produk elektronik konsumer dan apliances yang memiliki Head Quarter di Qingdao China kini jadi model case study di Harvard Business School, tentang Reinventing Bureaucracy.

“Revevenu 35 Miliar Dollar pertahun telah menyebabkan perusahaan ini berkompetisi head to head dengan LG, Whirlpool, Electrolux dan juga Panasonic. Tahun 2016 Haier mengakuisisi bisnis appliances nya GE. Secara global IA memiliki 75.000 karyawan. Sebanyak 27.000 diantaranya bekerja di luar Tiongkok,” sebut Jusman.

Selama satu dekade “gross profit” Haier tumbuh 23% pertahun. Revenu meningkat 18% pertahun. Perusahaan ini juga me ciptakan “market value” lebih 2 Milyar dollar hasil Inovasi dan penetrasi pasar baru.

Keberhasilan Haier muncul ketika ia melakukan proses restrukturisasi. Ia melayoff 10000 karyawan yang tidak produktip dan menciptakan 10 ribuan lapangan kerja baru. Haier Logistik telah berkembang jaringan nya ke seantero Tiongkok dan memberi pekerjaan kepada 90 ribu Supir independen sebagai outsourcing-nya.

Haier berhasil merombak dan meng”overhaul” ecosystem bisnis tradisional yang berurat berakar dengan sistem birokrasi dan administrasi yang jelimet. Selama sepuluh tahun  Zhang Ruimin , CEO Haier mengenalkan konsep “zero distance”. Setiap karyawan memiliki kuntbilitas pada pelanggannya.

Tiap karyawan menjadi “entrepreneur” yang energetik. Didorong Daya inovasi nya untuk menemukan metode baru, cara kerja baru dan produk baru untuk memenuhi kebutuhan spesifik tiap pelanggan.(helmi/fb)

Keyword

Artikel Terkait :

-