press enter to search

Kamis, 21/11/2019 19:57 WIB

Udara Palembang Tak Sehat, Libur Sekolah Diperpanjang

Redaksi | Rabu, 16/10/2019 20:59 WIB
Udara Palembang Tak Sehat, Libur Sekolah Diperpanjang Siswa di Palembang mengenakan masker akibat kabut asap masih tebal. (ist)

PALEMBANG (Aksi.id) - Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum membaik hingga Rabu (16/10). Dinas Pendidikan Kota Palembang memutuskan untuk meliburkan 500 lebih sekolah hingga Jumat (18/10).

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan kota Palembang Herman Wijaya mengatakan, Wali Kota Palembang melalui surat keputusan (SK) menetapkan masa libur siswa diperpanjang higga Jumat (18/10).

Sebelumnya, Wali Kota menetapkan merumahkan para siswa dari tingkatan PAUD, TK, SD, dan SMP sejak Senin (14/10) hingga Rabu (16/10).

"Siswa sekolahnya dirumahkan dulu, diperpanjang untuk mengantisipasi ISPA yang mudah menyerang anak-anak. Bagi kita mungkin tidak apa-apa, tapi anak kecil sudah mulai batuk-batuk, pilek dan sebagainya. Itu kita khawatir kalau semakin parah. Pertimbangan ini juga berdasarkan data BMKG dan Dinas Lingkungan Hidup," ujar dia, di Palembang, Rabu (16/10).

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang dirilis oleh Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Selatan, udara di Sumsel masuk dalam kategori tidak sehat.

Sedangkan menurut konsentrasi partikulat pm10 di situs BMKG pada pukul 06.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB, udara Sumsel sempat berada di kategori berbahaya.

Meskipun siswa diliburkan, Herman menyebut guru, kepala sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan tak ikut libur. Dinas Pendidikan Palembang hanya mempersingkat jam kerja mereka, yakni masuk lebih lambat dan pulang lebih cepat satu jam dari hari normal.

Dinas Pendidikan juga tidak khawatir para siswa akan ketinggalan jam pelajaran. Yang terpenting, faktor alam yang bisa memicu penyakit bagi para siswa bisa dicegah.

"Guru di sekolah punya cara masing-masing untuk mengejar ketertinggalan kurikulum, seperti memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah dan sebagainya. Selama kualitas udara belum membaik, kita tidak bisa memaksakan para siswa datang sekolah dengan resiko terpapar penyakit," ujar dia.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah titik api di Sumsel per Rabu (16/10) pukul 16:00 WIB mencapai 96 titik panas. Sebanyak 11 helikopter pun sudah dikerahkan untuk memadamkan api di wilayah itu. (ds/sumber CNN)