press enter to search

Selasa, 01/12/2020 00:36 WIB

Kemudikan Bus PO Arimbi Merak-Bakasi, Maman Kumis: Mikirin Setoran Aja Kewalahan

Dahlia | Rabu, 07/10/2020 19:28 WIB
Kemudikan Bus PO Arimbi Merak-Bakasi, Maman Kumis: Mikirin Setoran Aja Kewalahan Foto:aksi.id/BeritaTrans.com/Fahmi

BEKASI (aksi.id) – Adalah Maman Kumis, 40 tahun, seorang ‘pilot’ bus Arimbi. Dia harus bolak-balik setiap hari dari Merak, Banten, menuju Bekasi, Jawa Barat.

Warga Desa Cipicung, Cikedal, Pandeglang, Banten, mengemudikan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dari Merak-Bekasi harus ditempuh selama empat jam untuk sekali perjalanan dalam keadaan tidak macet.

Dengan uang operasional bus yang mencapai Rp650 -Rp750 ribu, dia juga harus mempersiapkan untuk uang setoran Rp375 ribu.

Padahal pagi itu, pada keberangkatan awal tujuan Terminal Bekasi, dia cuma bisa mendapatkan sewa tujuh orang dari kursi yang tersedia sebanyak 60 seat. Dengan tarif Rp45 ribu, dia masih merasa kurang untuk bahan bakar serta bayar tol.

“Satu PP solar kita itu Rp500 ribu, ini kita baru beli Rp200 ribu. Nanti pulangnya harus cari Rp300 ribu. Tol 150 ribu 2 kali. Belum lagi jalur dan makan,” kata pria dengan nama akrab MK tersebut kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id Selasa (6/10/2020).
97202018221
Di terminal tersebut dia juga menceritakan saat ini jumlah penumpang semakin sedikit lantaran masih adanya pembatasan pada beberapa sektor pekerjaan.

Namun, kerap juga dia berangkat dengan keadaan kosong tanpa penumpang. Orang-orang masih enggan mengunakan transportasi umum.

“Pokoknya mah menurunya 50 persenlah, makanya kita kuwalahan, jangankan buat makan. Mikirin setoran aja kewalahan,” keluh MK.

“Kalau dulu enggak seperti inilah. Bawa pulang(uang) seminggu bisa Rp6 – Rp7 ratus. Sekarangah mah boro-boro,”sambungnya.

Ayah dua orang anak ini tetap bersyukur, karena perusahaan tidak membebankan kekurangan setoran terhadap kru, yang terpenting katanya target setoran terpenuhi dan dia akan mendapatkan upah.

“Pandemi seperti ini apalagi ada PSBB, ya kewalahanlah. Cuma, kita tetap dibantu perusahaan, Alhamdulillah dari Arimbi mah bijaksana,” ucapnya.

MK menceritakan setoran sudah diringankan, bahkan kalau tidak ada penumpang sama sekali masih dia tetap dikasih SPJ yang disesuaikan dengan keadaan.

Saat seperti ini, MK juga harus bekerja secara aplusan, seminggu narik dan seminggu kemudian unit busnya dibawa oleh sopir lain. Hal itu dilakukan perusahaan menurutnya agar semua karyawan dapat berpenghasilan dan merata.

Mengalami masa sulit MK tetap berusaha untuk bisa menafkahi keluarga selain mengandalkan pemasukan istri sebagai guru berpenghasilan TKK di sebuah SD Negeri.

“Kalau lihat sikon(situasi dan kondisi) males kita (kerja) kalau enggak punya keyakinan.

Yang penting kita berusaha, Allah yang ngasi rejeki gitu mah. Daripada di rumah saya. Makan tidur makan tidur,” katanya.

Pernah Alami Kecelakaan

Sebelum menjadi pengemudi bus, MK adalah sopir truk ekspedisi. Truk fuso yang dia kemudikan sewaktu perjalanan pulang ke Merak mengalami kejadian naas.

Sewaktu perjalanan di Lampung truknya terbalik. Beruntung dia tidak mengalami luka dan masalah serius.

Pihak perusahaan mengharuskan dia membayar sejumlah uang kleim untuk mengganti kerusakan.

“Dulu pulang dari Lampung kena masalah saya. Laka, mobil terbalik. Saya di klaim sama kantor, kalau enggak salah diminta Rp26 juta. Memang enggak diminta langsung, dicicil dari gaji 50 persen, dari uang jalan per PO Rp50 ribu,” sebutnya.

Merasa bukan kesalahannya, katanya hal itu murni karena kecelakaan. Dan MK tidak sanggup jika gajinya  semakin sedikit karena pemotongan, dia pun mengundurkan diri tanpa membayar apapun.

“Mengundurkan diri aja, enggak bayar,” sebutnya.

Perusahaan, kata MK sudah membujuknya untuk tidak keluar kerjaan tersebut, karena dia telah dianggap baik.

“Perusahaan enggak mau saya mengundurkan diri, disuruh kerja kembali. Saya juga dipertahanin jangan sampai keluar. Karena kata HRDnya saya jujur enggak pernah neko- neko kerja kalau ada uang jalan,”katanya.

Setelah kejadian tersebut, Maman pernah menjadi sopir bus pada beberapa PO. Hingga akhirnya kini dia sudah tujuh tahun menjalal aspal bersama bus berwarna hijau kekuningan dengan strip oranye itu. (fahmi).