press enter to search

Sabtu, 10/04/2021 19:06 WIB

Kanada Timbang Status Genosida Terkait Aksi China pada Uighur

Redaksi | Rabu, 17/02/2021 15:52 WIB
Kanada Timbang Status Genosida Terkait Aksi China pada Uighur PM Kanada Justin Trudeau.

JAKARTA (Aksi.id) - Kanada dan sejumlah negara tengah mempertimbangkan untuk memberi label genosida alias pembantaian etnis terkait perlakuan China terhadap etnis minoritas Uighur.

Sebelumnya, pemerintahan AS di bawah Donald Trump, bulan lalu, mengatakan upaya penahanan Beijing terhadap sebagian besar minoritas Muslim di wilayah Xinjiang sama dengan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

"Itu (genosida) adalah kata yang sangat sarat makna dan tentunya sesuatu yang harus kami perhatikan dalam kasus Uighur," kata perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, dalam konferensi pers, dikutip dari AFP.

"Saya tahu komunitas internasional sedang mengamati dengan sangat hati-hati dan kami pasti ada di antara mereka, dan kami tidak akan ragu-ragu untuk menjadi bagian dari determinasi terkait hal-hal semacam ini," lanjutnya.

Trudeau juga mengatakan "tidak perlu dipertanyakan lagi" soal pelanggaran hak asasi manusia yang signifikan di Xinjiang.

"Kami sangat prihatin tentang hal itu dan ini sudah jadi keprihatinan kami berkali-kali," ucapnya.

Lihat juga: AS Singgung Laporan Perempuan Uighur Korban Pemerkosaan
"Tetapi ketika sampai pada penerapan kata `genosida` yang sangat spesifik, kami hanya perlu memastikan bahwa semua detil dalam prosesnya diperhatikan sebelum keputusan itu dibuat," lanjutnya.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan setidaknya satu juta warga Uighur dan Muslim berbahasa Turki lainnya telah ditahan di kamp-kamp di Xinjiang.

Akses independen ke area sensitif sangat dibatasi, membuat pelaporan dan verifikasi atas tuduhan itu pun hampir tidak mungkin.

Namun, para saksi dan aktivis mengatakan China berusaha untuk secara paksa mengintegrasikan Uighur ke dalam budaya mayoritas Han dengan menghapus adat istiadat Islam, termasuk dengan memaksa Muslim untuk makan daging babi dan minum alkohol sambil memberlakukan kerja paksa.

Pada Januari, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, "Kami menyaksikan upaya sistematis untuk menghancurkan Uighur oleh negara partai China."

Suksesor Pompeo, Antony Blinken, mengatakan setuju dengan label tersebut dan berjanji untuk tetap bertahan dalam isu tersebut.

China sendiri sudah membantah melakukan hal tersebut dan berpendapat bahwa kamp-kampnya adalah pusat pelatihan kejuruan yang bertujuan untuk mengurangi daya tarik ekstremisme Islam.

Diketahui, hubungan Kanada-China memburuk pada akhir 2018 karena penangkapan eksekutif Huawei Meng Wanzhou. Selain itu, ada penahanan dua warga Kanada, yakni mantan diplomat Michael Kovrig dan pengusaha Michael Spavor, oleh China. (ds/sumber CNNIndonesia.com)