press enter to search

Rabu, 12/05/2021 12:25 WIB

Ada Konspirasi Global Kuasai JICT & TPK Koja

| Kamis, 31/05/2018 23:33 WIB
Ada Konspirasi Global Kuasai JICT & TPK Koja

JAKARTA (aksi.id) - Penulis Ahmad Khoirul Fata dan MD Aminudin meluncurkan sebuah buku berjudul Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta dalam rangka perayaan 73 tahun Pancasila.

Buku tersebut menceritakan sebuah konspirasi global yang bertabrakan dengan semangat berdikari sekaligus perwujudan Nawacita dalam pengelolaan gerbang ekonomi Indonesia yakni terminal petikemas JICT dan TPK Koja, Jakarta Utara.

Fata mengatakan, selama hampir 20 tahun kiprah pelabuhan JICT dan TPK Koja sudah banyak kemajuan dan terobosan yang dilakukan para pekerja, demi mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun pengelolaan kedua pelabuhan ini akan dilanjutkan kembali dengan Hutchison Port milik taipan Hong Kong Li Ka Shing.

Celakanya, perpanjangan kontrak JICT dan Koja dimulai 5 tahun sebelum kontrak awal habis dan melanggar Undang-Undang serta merugikan negara hampir Rp 6 triliun.

Dalam buku ini, Amin dan Fata kemudian merangkum seluruh “transaksi haram” tersebut.

"Masyarakat perlu tahu busuknya kasus JICT ini. Harapannya, (dengan buku ini) Pemerintah dan masyarakat mendukung semangat berdikari dan Nawacita serta Pancasila dalam pengelolaan pelabuhan yang menyangkut hajat hidup orang banyak," terang Fata dalam acara peluncuran buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta di Museum Kebangkitan Nasional, Kamis (31/5/2018).

 Md Aminudin sang penulis, juga menambahkan, buku ini telah melalui berbagai riset primer dan sekunder sehingga buku itu secara lengkap mengulas bagaimana buruknya modus konspirasi global asing untuk menguasai BUMN pelabuhan.

Dia juga bercerita telah melakukan riset, pengumpulan data dan wawancara dengan para tokoh nasional dan anak-anak bangsa, khususnya para pekerja JICT, yang ingin perusahaan bongkar muat petikelas tersebut bisa kembali dikelola Indonesia 100%.

Namun ikhtiar mereka diberangus dan dibungkam oleh oknum-oknum tertentu.

"Itu menjadi bahan yang kami tuliskan dalam buku untuk mencerminkan kondisi betapa asing sangat berhasrat menguasai aset vital bangsa," tambah dia.

Mensesneg Era Presiden Gus Dur, Bondan Gunawan menekankan secara historis bahwa semangat berdikari harus terus digelorakan.

“Ini bukan sekedar perjuangan segelintir buruh tapi ini soal kecintaan mereka terhadap tanah air. Perjuangan ini yang masih belum selesai,” kata Bondan.

“Kita kok yah senang terhina karena tidak dipercaya sebagai bangsa sendiri utk mengelola aset strategis nasional JICT dan Koja,” ucap Bondan.

Di sisi lain, Ekonom INDEF Bima Yudhistira mengatakan ada tren pemaksaan BUMN berhutang lewat cara penerbitan Global Bond demi pembiayaan infrastruktur.

“Kenapa dipaksakan? Awalnya karena cita-cita pembangunan infrastruktur. Namun ternyata diluar prediksi. Infrastruktur tersebut tidak mengurangi ongkos logistik. Model ini yang bikin rusak,” kata Bima.

 Bima khwatir bukan hanya aset strategis JICT tapi akan terjadi bom waktu yang akan meledak.
 
 "Pada satu titik BUMN akan menyerah. Contohnya Pelindo II yang mulai kepayahan membayar hutang global bond. Pada akhirnya harga yang dibayar Indonesia akan sangat mahal. Bahkan nasionalisasi BUMN seperti JICT dari Hutchison hanya angan-angan,” ujarnya.
 
(fahri/sumber: tribunnews.com).
Keyword JICT TPK Koja