press enter to search

Rabu, 12/05/2021 13:13 WIB

Juragan Sawit ini Banting Setir Jadi Pengemudi Bus PO Bekasi Raya

Dahlia | Minggu, 16/08/2020 21:59 WIB
Juragan Sawit ini Banting Setir Jadi Pengemudi Bus PO Bekasi Raya Foto:aksi.id/BeritaTrans.com/Fahmi

BEKASI (aksi.id) – Adalah Nangkul Ginting, 37 Tahun, sudah tiga bulan harus menjadi sopir bus lagi setelah usahanya yaitu lapak agen jual beli sawit bangkrut.

Akibat harga sawit yang tidak menentu, dia harus tinggalkan dan kembali menjadi supir bus antarkota antarprovinsi PO Bekasi Raya jurusan Bekasi-Muara Dua.

“Dulu saya tauke sawit, semua dijual. Tahun 2014 itukan mengalami krisis global di Lampung,” cerita Ginting kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id di Terminal Bekasi, Ahad (16/8/2020).

Ayah tujuh orang anak ini mengaku, sebelum menjalankan bisnis, dia juga merupakan mantan supir bus PO Puspa Jaya jurusan Lampung-Yogyakarta selama enam tahun.

“Pas bangkrut udah usaha coba dongkrak lagi, enggak naik harga sawit, dongkrak lagi enggak naik juga. Mobil dijual tutupi hutang. Sekarang kerja di jalan, hasilnya harian tapi bebas dari hutang,” ujarnya.

Ginting menceritakan bahwa dia telah membeli sawit dari kebun seharga Rp1.500 sebanyak 100 Ton. Namun, di hari yang sama, harga di pasaran ternyata turun menjadi Rp1000, dia pun mengalami kerugian sebanyak Rp60 juta dalam sehari.

Dengan bermodalkan tekat dia mencoba menjual segala aset jual beli termasuk mobil oprasional angkut sawit untuk membayar segala hutang-hutangnya yang masih tersisa.

“Alhamdulillah indahnya hidup ini kalau enggak ada hutang ya, hutang bank, hutang orang, hutang leasing. Walaupun masih kerja sama orang lain, Insyaallah berkah,” tambah Ginting.

Kini dia sudah tiga bulan kembali menjadi sopir bus, semenjak dibukanya kembali Terminal Bekasi melayani penumpang dari 8 Juli lalu.

Sebelumnya dia sempat tidak bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia masih memiliki tabungan.

“Lebih parahnya semenjak Covid ini lah. Alhamdulillah sisa-sisa kebangkrutan itu masih ada, itulah untuk hidup selama Covid,” ungkapnya.

Saat ini warga Pringsewu, Lampung, ini harus setiap hari melintasi jalanan Pulau Jawa dan Sumatera, dengan gaji sistem upah pendapatan 15 persen.

“Untuk gaji kru presentase. 15 persen. Penumpang ada aja sih kalau untuk ke Sumatera, pokoknya kami PP (Pulang pergi) harus ada 25 penumpang,” jelas Ginting.

Dia menjelaskan, tarif penumpang saat ini berkisar Rp250-Rp300 ribu. Adapun biaya operasional bus dalam sekali jalan adalah sebesar Rp3.100.000, dengan rincian, biaya solar Rp1.100.000, biaya penyeberangan Kapal Feri Rp1.550.000, Tol Rp200 ribu dan sisanya untuk uaang makan kru selama perjalanan sebesar Rp.350 ribu. (fahmi).